The New Methodology of Socio-Economic Development of Indonesia: The Global Collaboration in Tackling the Middle Income Traps

Jakarta, 13 Maret 2017 – Universitas Darma Persada bekerja sama dengan Advanced Institute of Industrial Technology (AIIT) menyelenggarakan seminar internasional selama sehari di ruang Seminar Fakultas Teknologi Kelautan Universitas Darma Persada. Pada seminar yang dibuka langsung oleh Rektor Unsada, Dr. H. Dadang Solihin S.E., M.A. ini menghadirkan para pembicara yaitu Dr. Seiichi Kawata, Prof. Yoshie Kunisawa, Prof. Mitsuhiro Maeda, Dr. Tokuro Matsuo, Prof. Nobuki Ebisawa yang merupakan profesor AIIT dan moderator Dr. Heri Suhermanto yang pernah menjabat di Bapenas. Selain itu, seminar yang juga mengundang Dr. Budhi Santoso, Mohammad Irfan Saleh S.T., M.P.P., Ph.D., Dr. Arif Hariyana, dan Wignyo Adiyoso Ph.D ini juga memberikan kesempatan kepada dua mahasiswa AIIT Shoji Imura dan Masayasu Kanda untuk mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan langsung di Bekasi dan Jakarta. Seminar ini dihadiri langsung oleh para dekan, biro dan mahasiswa-mahasiswi Unsada.

Dibuka dengan presentasi pertama oleh Dr. Seiichi Kawata mengenai “State of the Art of AIIT Professional Education Program,” Kawata menjelaskan bahwa AIIT memiliki misi untuk membangun ahli teknik profesional dengan motivasi dan kemampuan untuk menciptakan nilai baru dan kontribusi untk merevitalisasi industri melalui pegaruh pengetahuan ahli dan keahlian teknik terstruktur. Kawata yang juga merupakan rektor di AIIT ini juga menjelaskan mengenai sejarah pendidikan di Jepang yang dimulai di zaman Edo. Pada tahun 1600 Jepang yang dipimpin oleh Tokugawa menutup diri dari dunia luar. Pada masa ini, Jepang menerapkan sistem pendidikan yang terbagi sesuai kelas sosialnya seperti Hanko yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat kelas kesatria samurai, Shijuku kelas private yang terbuka bagi semua strata sosial, dan Terakoya yang mengajarkan keahlian membaca dan menulis. Memasuki era Meiji, Jepang mulai membuka diri dengan dunia luar dengan mengadopsi model pendidikan Amerika yang terdiri dari 3 level pendidikan: dasar, menengah dan unviersitas. Saat ini Jepang memiliki sistem pendidikan yang disebut Kosen dimana pesertanya berusia 15-20/22 tahun dengan memberikan pendidikan kejuruan sebelum masuk universitas.

Presentasi kedua mengenai Metode PBL AIIT disampaikan oleh Prof. Yoshie Kunisawa. Kunisawa menjelaskan mengenai PBL (Project Based Learning) yang dipakai di AIIT merupakan metode pengajaran efektif untuk memperoleh kemampuan secara praktis. Mahasiswa yang hampir 80% diantaranya telah bekerja di dunia industri tentu membutuhkan komptensi yang lebih baik untuk menenunjang pekerjaan dalam bidangnya. Tujuan dari PBL di AIIT sendiri adalah untuk memperoleh kemampuan praktis dalam bisnis yang nyata dengan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. Oleh karena itu, dibutuhkan meta-competencies yang terdiri dari kemampuan komunikasi, kemampuan belajar dan meneliti yang berkelanjutan, dan aktivitas tim. Penilaian dalam PBL tidak menitikberatkan pada sukses tidaknya hasil dari suatu projek, melainkan bagaimana mahasiswa ikut serta dalam proses PBL baik saat menetapkan target, mencapai tujuan, maupun kualitas dan kuantitas komentar; bagaimana mahasiswa berkontibusi dalam aktivitas PBL baik itu pada desain penelitian, presentasi maupun hasil; yang terakhir bagaimana kompetensi diperoleh.

Sebelum Prof. Mitsuhiro Maeda menyampaikan presentasi ketiga yang bertajuk “Advancement of the Development Strategy in Tackling the Middle Income Traps in Indonesia – The Methodolgy Based on the Reflexive Modernity Theory of Info-socionomics,” Rektor Unsada memberikan penghargaan kepada Maeda sebagai Visiting Professor di Universitas Darma Persada. Menurut Maeda, Indonesia telah berhasil melaksanakan industrialisasi dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahap ini, Indonesia hampir memasuki kategori ekonomi Upper Middle Income. Agenda paling penting dalam memecahkan jebakan pendapatan menengah (Middle Income Traps) adalah dengan menyusun strategi pembangunan yang paling sesuai. Jepang dan Indonesia memiliki Sistem Inovasi Nasional yang mirip berdasarkan strategi pembangunan. Maeda juga menjelaskan mengenai sistem modernisasi yang terbagi menjadi 3 fase, yaitu nasionalisasi, industrialisasi, dan informatisasi. Industrialisasi sendiri terbagi menjadi 3 fase yaitu mekanisasi bagi produsen, mekanisasi bagi konsumen, dan mekanisasi bagi netizen (net-citizen). Menurut Maeda, hanya ekonomi yang dilengkapi dengan teknologi, modal dan sumber daya manusia industri yang cukup tinggi yang mampu mengembangkan perusahaan yang bagus dalam assembly-type manufacturing.

Presentasi keempat disampaikan oleh Tokuro Matsuo, Ph.D. mengenai MICE Tourism Business and Its Indonesia’s Potentials. Menurut Matsuo, Indonesia memiliki potensi yang sangat bagus untuk pariwisata berdasarkan statistik turis yang datang ke Indonesia. Untuk meningkatkannya, Indonesia perlu mengetahui ke negara mana untuk mempromosikannya dengan menganalisa peningkatan gross domestic product (GDP), mengetahui budayanya, menganalisa tren, dan mengetahui preferensinya. Matsuo berpendapat bahwa pariwisata dapat meningkat dengan menyelenggarakan MICE (meeting, incentive tour, convention and conference, exhibition). Dengan MICE, para wisatawan akan datang dan menambah pundi-pundi pendapatan nasional.

Selanjutnya, Prof. Nobuki Ebisawa menyampaikan presentasinya mengenai “The Unique Culture for Creation-Why was Honda ablet to Maintin Its Growth?.” Honda yang dibangun oleh Mr. Soichiro Honda merupakan brand kenamaan produk kendaraan motor. Bahkan tidak hanya kendaraan bermotor, Honda juga terus berinovasi dengan menciptkan jet hingga robot. Memiliki pesaing yang cukup banyak, Honda berhasil menjadi satu-satunya perusahaan kendaraan bermotor yang independen mengingat perusahan lain seperti Toyota, Subaru, Mazda, Suzuki dan Daihatsu bergabung menjadi satu group, sedangkan Nissan dan Mitsubishi berafiliasi dengan Renault. Honda mampu mempertahankan keunggulannya dengan cara memberikan produk yang bermutu dengan harga yang masuk akal. Filosofi yang terus dipegang dari Honda adalah “The Power of Dreams” dengan makna harus memiliki mimpi, semangat dan rasionalitas untuk menghadapi segala tantangan dan menjadikan mimpi menjadi nyata.

Selanjutnya, presentasi yang disampaikan oleh para mahasiswa yaitu Shoji Imura dengan “The Canal City Development Plan should be Taken by Introduction of the Latest Bioremedation Methodolgy in Water Treatment & Establising the System of the Canal Cruising Boot Tourism,” dan Masayasu Kanda dengan “A Proposal of Introduction of the Japanese Railway Technology into Indonesian Railway System.” Kedua presentasi tersebut berdasarkan penelitian yang mereka lakukan di Bekasi dan Jakarta. ar

Comments are closed.

WhatsApp chat