Seminar Haiku, Puisi Jepang, dengan Tema ‘Tsunami, Life and Death’

Seminar Haiku yang diselenggarakan pada Jumat, 23 Desember 2016 di ruang TS60 Fakultas Sastra, Unsada, merupakan sebuah acara dari hasil kerjasama antara Universitas Darma Persada, Panitia Shiba Fukio Haiku Awards dan ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia). Acara yang dimulai dari pukul 14:00 WIB ini dihadiri oleh Presiden ERIA, Prof. Nishimura Hidetoshi; perwakilan dari Panitia Seleksi Haiku, Tsushima Yasuko; sekretaris Panitia, Saito Kai; perwakilan dari majalah bulanan Kadokawa Haiku, Takaguchi Yuri; Pemenang Shiba Fukio Haiku Award, Sone Tsuyoshi; finalis Grand Final, Ikoma Daisuke; penyair dan penulis sebagai special guest, Noorca Marendra Massardi. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh Rektor Unsada beserta dosen dan mahasiswa/i Unsada.

Dalam acara tersebut, Tsushima menjelaskan mengenai apa itu Haiku. Haiku merupakan puisi pendek berpola 5-7-5 silabel. Umumnya, haiku menceritakan tentang empat musim yang ada di Jepang dengan menyisipkan berbagai macam perasaan penyair seperti keindahan alam ataupun masalah yang sedang terjadi saat ini. Shiba Fukio Haiku Awards sendiri merupakan salah satu ajang kenamaan pemilihan haiku terbaik di antara para penyair Jepang. Ajang ini melibatkan lebih dari 100 peserta yang mana setiap peserta usia 40 tahun ke bawah wajib menulis sebanyak 100 haiku untuk dapat mendaftar.

Ikoma menambahkan bahwa dia sudah mulai menulis haiku sejak usia 15 tahun. Haiku  karyanya lebih kontemporer dibandingkan dengan haiku lainnya. Lain halnya dengan Ikoma, Sone mengakui bahwa ia baru mulai menulis haiku saat berusia 27 tahun.  Haiku yang ia tulis berdasarkan pengalamannya menyaksikan dan mengalami secara langsung ‘tsunami’ yang terjadi di Jepang pada 2011 yang lalu.

Tsushima juga menyampaikan bahwa haiku tidak terbatas bagi orang Jepang maupun dalam Bahasa Jepang saja.  Haiku dapat ditulis dalam bahasa apapun selama mengikuti aturan  haiku yaitu 5-7-5 silabel. Sebagai bentuk apresiasinya, Tsushima membagikan buku saku untuk menulis  haiku bagi para peserta seminar yang telah hadir.

Acara ini kemudian ditutup dengan pembacaan haiku yang ditulis oleh Noorca. Haiku  tersebut dibuat berdasarkan pengalamannya saat berada di Aceh beberapa hari pasca tsunami Aceh 2004. Ia menyampaikan perasaannya melalui haiku yang ia buat spontan tersebut. ar

Comments are closed.

WhatsApp chat