Webinar: Bahasa dan Realitas – Mengulik Peran Bahasa dalam Membentuk “The New Normal” Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Jakarta, 17 Juni 2020 – Fakultas Sastra Universitas Darma Persada (UNSADA) menyelenggarakan seminar web dengan tema “Bahasa dan Realitas – Mengulik Peran Bahasa dalam Membentuk The New Normal.” Seminar yang untuk kedua kalinya diselenggarakan secara daring oleh Fakultas Sastra sejak maraknya penyebaran virus Covid-19 tersebut menghadirkan Rheinatus Alfonsus Beresaby, S.E, H.Hum.,  selaku Dosen Filsafat Prodi Bahasa dan Kebudayaan Inggris S1,  Yoga Pratama, SS, M.Pd., selaku Dosen TEFL Prodi Bahasa dan Kebudayaan Inggris S1, dan Damhuri Muhammad, S.Ag., M.Hum., selaku Dosen Prodi Bahasa dan Kebudayaan Inggris D3, serta Ade Prasetio, mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Inggris S1 angkatan 2018 sebagai Moderator. 

Webinar ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Sastra, Dr. Eko Cahyono. Diawali dengan sambutan dari pewara Herianto, S.Pd, MT, webinar yang dihadiri oleh 237 peserta ini pun dimulai secara resmi dengan sambutan dari Dekan Fakultas Sastra. Dalam sambutannya, Dekan menekankan bahwa ada hikmah di balik setiap peristiwa termasuk dengan adanya new normal yang mendorong seluruh elemen untuk menggunakan seluruh sumber daya terutama teknologi.

Menjadi pembicara pertama dalam webinar tersebut, Damhuri menjelaskan mengenai pandemi yang sebetulnya bukan pertama kali ini terjadi di dunia seperti wabah flu Spanyol yang sebelumnya pernah terjadi. Pandemi ini telah mengubah tatanan baru kehidupan seperti kebutuhan untuk memakai masker yang menutup wajah sehingga tidak memperlihatkan ekspresi. Pada ilmu filsafat, wajah merupakan bentuk utuh wajah yang menampilkan ekspresi sehingga ketika memakai masker tentu menghilangkan bentuk utuh dari wajah tersebut.

Narasumber kedua yaitu Rheinatus menguraikan mengenai “Bahasa, Penalaran dan Realitas.” Dalam bahasa, terdapat masalah pemahaman ketika sebuah kata dapat bermakna ganda sehingga bahasa dan realitas tidak dapat dipisahkan. Pemahaman realitas dipengaruhi oleh pengetahuan yang juga bervariasi dengan adanya perbedaan level pengetahuan yang berbeda. Terlebih lagi, adanya perdebatan di media sosial sehingga mengintervensi asosiasi. Sirkulasi pengetahuan dimulai dengan mengerti yaitu menyamakan dan membedakan terlebih dahulu, berlanjut dengan mengetahui yaitu menggabungkan dua pengertian dalam struktur tertentu, dan terakhir memahami yaitu menempatkan pengetahuan dalam konteks. Dalam bahasa, new normal merupakan term baru, predikat baru bagi penyelenggaraan aktivitas yang ditandai dengan protokol kesehatan, makna baru, dan wacana; sedangkan dalam realitas covid-19 masih menyebar dan vaksin belum ditemukan sehingga masyarakat ditempatkan dalam dilema antara sehat dan produktif. Korona dalam dimensi fisik berupa bunyi k-o-r-o-n-a; dalam dimensi konsep sejenis flu; dalam dimensi psikologi menakutkan, mematikan dan tingkat penyebarannya cepat; dan dalam dimensi budaya membentuk cara hidup baru.

Terakhir, Yoga menyampaikan materi “Strategi Pembelajaran Bahasa di Era The New Normal.” Akhir-akhir ini, normal baru (the new normal) menjadi sebuah frasa populer. Ada pula yang menukar gantikan istilah tersebut dengan beberapa istilah seperti tatanan kehidupan baru menurut Joko Widodo, adaptasi kebiasaan baru menurut Ridwan Kamil, transisi menyambut kenormalan baru menurut Anies Baswedan dan Bima Arya, dan era permulaan baru menurut Williem Bridge. Badan Bahasa memberikan istilah kenormalan baru. Istilah New Normal adalah bentuk frasa nomina atau noun phrase dengan inti frasa pada kata normal ditandai sebagai unsur D (diterangkan) dan kata new ditandai sebagai unsur M (menerangkan). Sejak pandemi, terjadi perubahan dalam pola paradigma pembelajaran bahasa seperti buku dan ruang kelas tidak lagi menjadi prioritas pembelajaran, pembelajaran menjadi lebih berbasis teknologi. Education 4.0 dapat dilihat sebagai sebuah respons kreatif di mana manusia memanfaatkan teknologi digital, open sources contents dan global classroom dalam penerapan pembelajaran. Di sisi lain, new normal pembelajaran secara e-learning bukanlah jawaban dari sebuah pertanyaan, tetapi adaptasi dari sebuah kondisi yang semua orang “terpaksa” melakukannya. Selain e-learning dan blended learning, pengajar dapat memadukan contextual teaching and learning yaitu konsep belajar yang mendorong dosen untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan karakteristik mahasiswa di tengah pandemi Covid 19. Pendidik harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun peserta didik berada di rumah. Solusinya, pendidik harus bisa menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dengan menggunakan model pembelajaran Blended Learning sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online) tersedia atau menciptakan bahan ajar yang interaktif dan inovatif dengan menggabungkan antara pembelajaran blended learning dan contextual teaching and learning. ar

Webinar Bahasa dan Realitas – Mengulik Peran Bahasa dalam Membentuk The New Normal Fakultas Sastra Universitas Darma Persada
Peserta Webinar Bahasa dan Realitas – Mengulik Peran Bahasa dalam Membentuk The New Normal Fakultas Sastra Universitas Darma Persada
Narasumber Webinar Bahasa dan Realitas – Mengulik Peran Bahasa dalam Membentuk The New Normal Fakultas Sastra Universitas Darma Persada
Peserta Lain Webinar Bahasa dan Realitas – Mengulik Peran Bahasa dalam Membentuk The New Normal Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Leave a Reply

WhatsApp chat