Standardisasi Kerja dan Pembentukan Lingkungan Kerja

Jakarta, 02 April 2018 – Universitas Darma Persada bekerja sama dengan AMEICC (AEM-METI Economic and Industrial Cooperation Committee) dan AOTS (The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships) menyelenggarakan seminar khusus dengan narasumber Takeshi Adachi dari GDMC (Global Development & Management Consultants) yang diadakan empat hari berturut-turut. Seminar yang dimulai hari ini, Senin, 2 April 2018 tersebut bertempat di Ruang Seminar Fakultas Teknologi Kelautan dengan diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi UNSADA. Seminar yang dibuka oleh Wakil Rektor I, Dr. Mochammad Sholichin, M.Pharm, tersebut turut mengundang para dosen dari Fakultas Teknik.

Dalam seminar tersebut, lulusan Jurusan Teknik Mesin Saitama Institute of Technology tersebut, Adachi menyampaikan bahwa hakikat pekerjaan bukanlah hanya bergerak atau melakukan sesuatu saja. Menurutnya, bekerja merupakan kegiatan bergerak yang mengandung nilai. Perusahaan sendiri menciptakan keuntungan dari penjualan dan harus membayar gaji karyawan sehingga karyawan haruslah bekerja agar perusahaan dapat meningkatkan keuntungan. Dengan kata lain, bekerja pada akhirnya harus memiliki arti meningkatkan nilai tambah dengan bergerak.

Lain halnya dengan pelanggan, pelanggan akan memilih vendor berharga murah untuk layanan yang sama. Oleh sebab itu, perusahaan harus memiliki sifat dapat memberikan pekerjaan bernilai tambah tinggi dengan harga murah. Dalam proses ini, dikenallah konsep kaizen. Kaizen bukanlah peningkatan semata melainkan peningkatan yang ada dalam pola pikir sehingga peningkatan ini berkelanjutan.

Dalam bekera terkadang muncul kesia-siaan sehingga mengurangi tingkat efektifitas bekerja. Taiichi Ono, Bapak dari Sistem Produksi Toyota, menyadari masalah dan kesia-siaan dalam pekerjaannya dan berusaha agar hal tersebut dapat teratasi. Gerakan untuk terus memiliki kesadaran akan masalah dan terus menerus mencari penyelesaiannya disebut Gerakan Perbaikan. Kesia-siaan sendiri merupakan semua hal yang tidak meningkat nilai tambah pekerjaan. Untuk menghindari kesia-siaan dan meningkatkan nilai tambah dalam pekerjaan, maka perlu standar yang jelas seperti standardisasi lingkungan kerja (gerakan 5S), standardisasi kerja (gerakan penyelarasan), dan eifisiensi (gerakan meniadakan kesia-siaan. 5S merupakan singkatan dari Seiri (Kuantifikasi), Seiton (Stasionerisasi), Seiso (Inspeksi), Seiketsu (Standardisasi) dan Shitsuke (Kemandirian). 5S sendiri dalam bahasa Indonesia disebut 5R (Ringkas, Rapi, Resi, Rawa, Rajin). Jika kegiatan tersebut dilaksanakan, maka para pekerja akan mengetahui dalam sekali lihat kondisi normal maupun abnormal di dalam tempat kerja. Pekerja juga diberikan keuntangan dengan lingkungan kerja yang mudah untuk bekerja bagi para pekerja itu sendiri.

Pada akhirnya, baik pengelola maupun pekerja akan saling diuntungkan dari 5S yang memfiksasi bottom-up. Pengelola dapat menjanjikan dukungan gerakan mandiri dan menerapkan usulan perbaikan dan koreksi, sedangkan dari pekerja dapat mengusulkan perbaikan dengan memanfaatkan pengetahuan di lapangan dan kreativitas. Dengan begitu, ikatan kepercayaan antara pengelola dan pekerja akan semakin erat. ar

Leave a Reply