Direct Line 8649059 Puji 085218173992 , Dwi 081394061988, Aryza 081285377881 Office Hours Monday - Friday : 08:00-16:00 , Saturday 09.00 - 14.00.

Seminar Pendidikan Karakter: Peran Dunia Pendidikan Meredam Penyimpangan Orientasi Seksual pada Generasi Milenial

Oleh Admin | March 14, 2018 at 2:24 pm

Seminar Pendidikan Karakter
Peran Dunia Pendidikan Meredam Penyimpangan Orientasi Seksual pada Generasi Milenial

Jakarta, 14 Maret 2018 – Universitas Darma Persada melalui Tempat Uji Kompetensi Manusia Unggul UNSADA menyelenggarakan Seminar Pendidikan Karakter yang bertajuk “Peran Dunia Pendidikan Meredam Penyimpangan Orientasi Seksual pada Generasi Milenial.” Seminar yang diselenggarakan di Grha Wira Bakti tersebut terlaksana berkat dukungan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina dan Yayasan Manusia Unggul Bawalaksana dengan mengundang para ahli kesehatan seperti Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubeis, Dr. dr. Yuli Kurniawati, Sp. KK(K).FINSDV.FAADV., dr. Achmad Mediana, Sp.OG., dan Dr. Endah Ronawulan, Sp.KJ.

Seminar yang berlangsung sejak pukul 09:00 WIB tersebut dimulai dengan sambutan oleh Rektor UNSADA, Dr. H. Dadang Solihin, S.E., M.A. Dalam sambutannya, Dadang menyampaikan, “Kampus merupakan tempat bebas berekspresi, dan disorientasi seksual oleh sebagian orang disimpulkan sebagai bentuk ekspresi diri. Namun perlu digarisbawahi jika LGBT dibiarkan, di masa mendatang akan terjadi krisis generasi muda yang produktif karena angka kelahiran menurun.” Dadang berharap dengan adanya seminar ini dapat membuka wawasan para peserta seminar untuk terhindar dari LGBT.

Dipandu dengan moderator Sukardi, S.E., M.M., seminar pertama yang bertajuk “Fenomena Penyimpangan Orientasi Seksual dari Perspektif Gender” disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubeis. Profesor yang juga seorang guru besar Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut menyampaikan bahwa pengertian gender berbeda dengan pengertian seks. Gender mengacu pada relasi sosial dan peran-peran yang dikonstruksi serta diharapkan oleh masyarakat untuk dilakukan oleh perempuan dan laki-laki, sedangkan seks atau jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki. Seks sendiri bersifat permanen, tidak dapat dipertukarkan, dibawa sejak lahir dan merupakan pemberian Tuhan. Menurut pengarang buku Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa tersebut, gay dan lesbian merupakan bentuk penyimpangan perilaku seksual (hubungan sesama jenis) yang secara tidak langsung menggerus pedoman luhur hubungan seksual yang sah, bersih dan sehat yang sekaligus merupakan bentuk perlawanan terhadap fitrah hubungan seksual yang telah Allah ciptakan. Menutup uraiannya, Aida menegaskan bahwa Komunikasi dalam keluarga dapat diibaratkan sebagai darah dalam tubuh, jika berhenti mengalir maka matilah keluarga. Komunikasi tentang identitas biologis primer dan fungsinya yang tidak dapat dipertukarkan merupakan suatu keniscayaan. Ketidakberhasilan komunikasi dan sosialisasi ini berdampak pada kelanjutan generasi penerus dan komitmen untuk menempatkan dan menetapkan kelangsungan pasangan suami (lelaki) – istri (perempuan) adalah tanggung jawab kita bersama di dunia dan di akhirat kelak.

Dilanjutkan dengan seminar kedua yang disampaikan oleh Dr. dr. Yuli Kurniawati dengan tajuk “LGBT: Resiko Infeksi Menular Seksual dan HIV.” Menurut Doktor dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang tersebut, angka prevalensi HIV pada tahun 2017 meningkat bagi homoseksual. Penyakit kelamin yang menghantui seperti sifilis, gonore, klamidia, dan kondiloma akuminata. Para pengidap penyakit kelamin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk tertular HIV. Oleh karena itu, bagi siapapun yang memiliki gejala penyakit kelamin tersebut untuk segera memeriksakan diri ke dokter untuk dapat ditangani oleh ahli kesehatan.

Seminar ketiga disampaikan oleh dr. Achmad Mediana, Sp.OG., yang menekankan bahwa untuk meredam LGBT, perlu dipahami faktor-faktor penyebab dan prosesnya seperti keadaan sosial dan budaya tempat individu tumbuh dan berkembang, genetik dan hormon, dan proses perkembangan. Orientasi seksual dipengaruhi oleh pengumuman-pengumuman sepanjang masa kehidupannya, mulai dari dalam kandungan dan permulaan hidup sampai pada masa remaja. Tantang yang dihadapi saat ini adalah kesehatan dan pendidikan masih berjalan sendiri-sendiri sehingga tidak adanya data, integrasi, evaluasi maupun tindak lanjut dalam menanggulangi masalah LGBT. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama antara keluarga, sekolah dan juga ahli kesehatan dalam menyediakan data yang terintegrasi dan dapat dievaluasi sehingga nantinya dapat dijadikan acuan untuk meredam masalah LGBT tersebut.

Menutup rangkaian seminar tersebut, seminar terakhir mengenai “Siapa, Apa, Dimana, dan Mengapa Kita Harus Peduli?” disampaikan oleh Dr. Endah Ronawulan, Sp.KJ. Psikiater dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta tersebut menyampaikan bahwa fisioterapi dapat diaplikasikan kepada kaum LGBT. Tujuannya untuk membantu LGBT mempertahankan mekanisme pertahanan hidup yang sehat melalui sikap positif; menghadapi perasaan bersalah, penyangkalan, panik, dan putus asa; bekerja bersama LGBT menciptakan perasaan self-respect dan menyelesaikan konflik mereka sendiri. Selain itu, fisioterapi membantu mengatasi krisis kesehatan maupun sosioekonomi, dan membantu pasien ke arah mekanisme pertahanan yang positif. Tidak heran, beberapa pasiennya yang homoseksual dapat berubah menjadi heteroseksual dan saat ini telah menikah bahkan ada yang telah dikaruniai keturunan. ar

Seminar Pendidikan Karakter: Peran Dunia Pendidikan Meredam Penyimpangan Orientasi Seksual pada Generasi Milenial

Oleh Admin | March 14, 2018 at 2:24 pm

Seminar Pendidikan Karakter
Peran Dunia Pendidikan Meredam Penyimpangan Orientasi Seksual pada Generasi Milenial

Jakarta, 14 Maret 2018 – Universitas Darma Persada melalui Tempat Uji Kompetensi Manusia Unggul UNSADA menyelenggarakan Seminar Pendidikan Karakter yang bertajuk “Peran Dunia Pendidikan Meredam Penyimpangan Orientasi Seksual pada Generasi Milenial.” Seminar yang diselenggarakan di Grha Wira Bakti tersebut terlaksana berkat dukungan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina dan Yayasan Manusia Unggul Bawalaksana dengan mengundang para ahli kesehatan seperti Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubeis, Dr. dr. Yuli Kurniawati, Sp. KK(K).FINSDV.FAADV., dr. Achmad Mediana, Sp.OG., dan Dr. Endah Ronawulan, Sp.KJ.

Seminar yang berlangsung sejak pukul 09:00 WIB tersebut dimulai dengan sambutan oleh Rektor UNSADA, Dr. H. Dadang Solihin, S.E., M.A. Dalam sambutannya, Dadang menyampaikan, “Kampus merupakan tempat bebas berekspresi, dan disorientasi seksual oleh sebagian orang disimpulkan sebagai bentuk ekspresi diri. Namun perlu digarisbawahi jika LGBT dibiarkan, di masa mendatang akan terjadi krisis generasi muda yang produktif karena angka kelahiran menurun.” Dadang berharap dengan adanya seminar ini dapat membuka wawasan para peserta seminar untuk terhindar dari LGBT.

Dipandu dengan moderator Sukardi, S.E., M.M., seminar pertama yang bertajuk “Fenomena Penyimpangan Orientasi Seksual dari Perspektif Gender” disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubeis. Profesor yang juga seorang guru besar Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut menyampaikan bahwa pengertian gender berbeda dengan pengertian seks. Gender mengacu pada relasi sosial dan peran-peran yang dikonstruksi serta diharapkan oleh masyarakat untuk dilakukan oleh perempuan dan laki-laki, sedangkan seks atau jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki. Seks sendiri bersifat permanen, tidak dapat dipertukarkan, dibawa sejak lahir dan merupakan pemberian Tuhan. Menurut pengarang buku Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa tersebut, gay dan lesbian merupakan bentuk penyimpangan perilaku seksual (hubungan sesama jenis) yang secara tidak langsung menggerus pedoman luhur hubungan seksual yang sah, bersih dan sehat yang sekaligus merupakan bentuk perlawanan terhadap fitrah hubungan seksual yang telah Allah ciptakan. Menutup uraiannya, Aida menegaskan bahwa Komunikasi dalam keluarga dapat diibaratkan sebagai darah dalam tubuh, jika berhenti mengalir maka matilah keluarga. Komunikasi tentang identitas biologis primer dan fungsinya yang tidak dapat dipertukarkan merupakan suatu keniscayaan. Ketidakberhasilan komunikasi dan sosialisasi ini berdampak pada kelanjutan generasi penerus dan komitmen untuk menempatkan dan menetapkan kelangsungan pasangan suami (lelaki) – istri (perempuan) adalah tanggung jawab kita bersama di dunia dan di akhirat kelak.

Dilanjutkan dengan seminar kedua yang disampaikan oleh Dr. dr. Yuli Kurniawati dengan tajuk “LGBT: Resiko Infeksi Menular Seksual dan HIV.” Menurut Doktor dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang tersebut, angka prevalensi HIV pada tahun 2017 meningkat bagi homoseksual. Penyakit kelamin yang menghantui seperti sifilis, gonore, klamidia, dan kondiloma akuminata. Para pengidap penyakit kelamin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk tertular HIV. Oleh karena itu, bagi siapapun yang memiliki gejala penyakit kelamin tersebut untuk segera memeriksakan diri ke dokter untuk dapat ditangani oleh ahli kesehatan.

Seminar ketiga disampaikan oleh dr. Achmad Mediana, Sp.OG., yang menekankan bahwa untuk meredam LGBT, perlu dipahami faktor-faktor penyebab dan prosesnya seperti keadaan sosial dan budaya tempat individu tumbuh dan berkembang, genetik dan hormon, dan proses perkembangan. Orientasi seksual dipengaruhi oleh pengumuman-pengumuman sepanjang masa kehidupannya, mulai dari dalam kandungan dan permulaan hidup sampai pada masa remaja. Tantang yang dihadapi saat ini adalah kesehatan dan pendidikan masih berjalan sendiri-sendiri sehingga tidak adanya data, integrasi, evaluasi maupun tindak lanjut dalam menanggulangi masalah LGBT. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama antara keluarga, sekolah dan juga ahli kesehatan dalam menyediakan data yang terintegrasi dan dapat dievaluasi sehingga nantinya dapat dijadikan acuan untuk meredam masalah LGBT tersebut.

Menutup rangkaian seminar tersebut, seminar terakhir mengenai “Siapa, Apa, Dimana, dan Mengapa Kita Harus Peduli?” disampaikan oleh Dr. Endah Ronawulan, Sp.KJ. Psikiater dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta tersebut menyampaikan bahwa fisioterapi dapat diaplikasikan kepada kaum LGBT. Tujuannya untuk membantu LGBT mempertahankan mekanisme pertahanan hidup yang sehat melalui sikap positif; menghadapi perasaan bersalah, penyangkalan, panik, dan putus asa; bekerja bersama LGBT menciptakan perasaan self-respect dan menyelesaikan konflik mereka sendiri. Selain itu, fisioterapi membantu mengatasi krisis kesehatan maupun sosioekonomi, dan membantu pasien ke arah mekanisme pertahanan yang positif. Tidak heran, beberapa pasiennya yang homoseksual dapat berubah menjadi heteroseksual dan saat ini telah menikah bahkan ada yang telah dikaruniai keturunan. ar

Copyright © UNIVERSITAS DARMA PERSADA, Tahun 2018