Direct Line 8649059 Puji 085218173992 , Dwi 081394061988, Aryza 081285377881 Office Hours Monday - Friday : 08:00-16:00 , Saturday 09.00 - 14.00.

Pelatihan Kaizen: Kebutuhan akan Kaizen

Oleh Admin | April 3, 2018 at 2:33 pm

Pelatihan Kaizen: Kebutuhan akan Kaizen

Jakarta, 03 April 2018 – Memasuki hari kedua seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Darma Persada bekerja sama dengan AMEICC (AEM-METI Economic and Industrial Cooperation Committee) dan AOTS (The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships) masih bersama Takeshi Adachi. Lulusan Jurusan Teknik Mesin Saitama Institute of Technology tersebut menyampaikan materi mengenai “Pelatihan Kaizen: Kebutuhan akan Kaizen.”

Menurutnya, lingkungan yang melingkupi industri manufaktur berubah dari hari ke hari sehingga perlu mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kinerjanya. Dalam periode pertumbuhan, produsen dapat menetapkan harga jual dengan memikirkan laba dan biaya pokok. Akan tetapi, dalam periode pertumbuhan rendah, produsen memikirkan biaya pokok dan laba berdasarkan harga jual yang ditetapkan oleh pasar (konsumen) sebelumnya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja mau tidak mau biaya pokok harus diturunkan.

Pada prinsipnya kaizen dilakukan untuk menghilangkan hal-hal yang tidak menghasilkan nilai dan memikirkan langkah untuk menciptakan nilai yang lebih lagi untuk hal-hal yang memiliki nilai. Dengan kaizen, perusahaan memahami mekanisme proses produksi sehingga menghilangkan kesia-siaan yang timbul. Kesenjangan kinerja pada industri manufaktur utamanya terjadi pada proses monozukuri di lokasi produksi karena divisi inilah yang paling dekat dengan konsumen. Saat melaksanakan kegiatan kaizen di loksai produksi, penting untuk memperhatikan cara menangani 4M (Man, Material, Machine, Method) dan 1I(Information) yang tidak selalu berada dalam kondisi terbaiknya. Berkaitan dengan kaizen, manajemen dan pengelola harus memperjelas kebijakan, agenda, dan target, lalu menyampaikannya kepada organisasi di bawahnya.

Meskipun berfokus pada kaizen di lokasi produksi, kaizen tidak hanya dilakukan di lokasi produksi. Seluruh elemen perusahaan memikirkan bagaimana cara agar perusahaan menjadi lebih baik. Jika kegiatan kaizen dihentikan, perusahaan akan mengalami kemunduran. Dengan kata lain, tidak ada kata selesai untuk kegiatan kaizen.

Dalam metode produksi, dibutuhkan partisipasi semua orang termasuk Presiden Direktur hingga operator untuk menghilangkan secara tuntas kesia-siaan, keterpaksaan, dan juga ketidakmerataan sehingga mengurangi produk cacat, persediaan dan juga jam-orang. Dengan begitu, efisiensi produksi akan meningkat dan biaya pokok akan menurun.

Jika sebelumnya perusahaan bisa menetapkan harga jual dengan menambahkan laba pada biaya pokok, kini konsumen adalah pihak yang menentukan harga jual sehingga harga jual ditentukan secara alami sehingga menurunkan biaya pokok adalah cara yang baik untuk mengejar laba. Lain halnya dnegan kesia-siaan merujuk kepada berbagai elemen produksi yang hanya meningkatkan biaya pokok, atau dengan kata lain, segala sesuatu yang tidak meningkatkan nilai tambah.

Dua pilar dalam metode produksi adalah just in time dan jidoka (otomatisasi) serta prasyarat untuk mewujudkan dua pilar ini adalah heijunka (perataan) yaitu mengalirnya jumlah dan jenis secara rata-rata kapan saja di dalam proses produksi. Dalam aliran produksi terdapat produksi aliran 1 buah dimana barang persediaan yang berlebih atau macet di dalam proses atau antar-proses menajdi semakin sedikit. Untuk proses yang lebih canggih menggunakan otomatisasi yang merupakan sistem dimana mesin atau peralatan akan mendeteksi abnormalitas dan menghentikannya secara otomatis jika terjadi abnormalitas pada mesin, peralatan, atau kualitas, atau keterlambatan pekerjaan.

Sistem untuk mencegah masalah seperti produk cacat dan kesalahan operasional meskipun operator sedang tidak memperhatikan disebut poka-yoke. Poke-yoke sendiri memiliki 3 metode yaitu metode indikator dimana masalah dideteksi secara visual seperti memasang lampu dan memudahkan visual dengan pembedaan warna, metode jig dimana komponen yang spesifikasinya berbeda tidak bisa dipasang pada jig, dan metode otomatisasi dimana mesin secara otomatis berhenti jika timbul masalah di tengah proses.

Kegiatan kaizen dilakukan berdasarkan empat tahapan yaitu standardisasi, pencegahan kebocoran keluar, tidak membuat produk cacat, dan tidak bisa membuat produk cacat. Untuk melaksanakan kegiatan kaizen, yang pertama dilakukan adalah melaksanakan kegiatan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) atau 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dalam bahasa Indonesia, menata aliran dari proses produksi, dan menghilangkan kesia-siaan. Kesian-siaan ini dapat disebabkan oleh produksi yang berlebihan, persediaan, lamanya menunggu, pengangkutan, penciptaan produk cacat, gerakan, dan pemrosesan itu sendiri.

Selain itu, kegiatan kaizen tidak bisa dilaksanakan hanya dengan aba-aba saja, melainkan dibutuhkan partisipasi semua pihak dengan mengerahkan dan menginvestasikan semua aspek termasuk manusia, barang, dan uang. ar

UNSADA

Social Links