Direct Line 8649059 Puji 085218173992 , Dwi 081394061988, Aryza 081285377881 Office Hours Monday - Friday : 08:00-16:00 , Saturday 09.00 - 14.00.

Kuliah Umum Budaya Tionghoa: Ritus Tolak Bala Zisha

Oleh Admin | April 26, 2019 at 3:06 pm

Jakarta, 26 April 2019 – Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada menyelenggarakan Kuliah Umum Budaya Tionghoa pada Jumat, 26 April 2019 dengan mengundang Ardian Cangianto. Acara yang diselenggarakan di ruang seminar TS60 tersebut bertajuk “Ritus Tolak Bala Zisha.” Seminar yang berlangsung sejak pukul 09:00 WIB tersebut tidak hanya dihadiri oleh para mahasiswa mahasiwi UNSADA namun juga para dosen dan jajaran Fakultas Sastra.

Menurut Ardian, menafsir atau meramal itu dikenal dalam semua kebudayaan dan mengandung unsur kebijaksanaan (profetik). Hasil ramalan tidak selalu baik karena ada unsur enak dan tidak enak namun harus diterima. Jika dalam penafsiran tersebut, terdapat hal-hal yang buruk, maka dalam budaya Tionghoa mengenal atau memiliki metode untuk mengubah atau mengatasi unsur buruk tersebut. Cara ini disebut dengan tolak bala (ciswak atau zhisha) 制煞.

Pengertian Ji Sha atau Zhi Sha adalah: JI 祭 berarti menyembayangi. SHA 煞=buruk, bencana, malapetaka, jahat. Secara umum Sha diartikan sebagai hal yang buruk, atau malapetaka. Zhi 制 berarti mengontrol dan memiliki arti lain sebagai ritual untuk menolak bencana. Manusia pada umumnya saat menatap masa depan, selalu memiliki kecemasan dan harapan, citra dan idealitas. Pola pikir ini adalah hal yang lumrah dan sudah memasuki ranah sistem kepercayaan orang Tionghoa yang telah berjalan ribuan tahun. Sistem kepercayaan ini bertujuan menjaga keteraturan atau mencari keteraturan itu sendiri yang merupakan sistem simbolik. Sistem simbolik sendiri adalah mediasi antara tataran abstraksi dan ekspresi dalam hidup yang memiliki 3 bagian yaitu domain ekspresi, sistem simbolik dan domain abstraksi (konseptual atau metafisik).

Orang Tiongkok juga percaya bahwa alam semesta memiliki hukum atau aturan yang bisa dipredisiksi, ini jika kita mengetahui caranya. Karena itu timbul banyak cara untuk menghitung ritme alam dan disesuaikan dengan kondisi manusia sebagai bagian dari Macro Cosmos. Kitab YiJing mendasari pemikiran tersebut. Prinsip kitab Yijing mengenai hukum alam adalah semua yang bersifat tetap memiliki sifat tidak tetap, semua sifat yang tidak tetap memiliki sifat yang tetap, dan mengetahui 2 sifat ini, mengetahui seluruh rahasia alam semesta. Dari ketiga hal tersebut, yang bersifat tetap adalah ketidaktetapan itu sendiri atau dengan kata lain yang bersifat tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Selain itu, dalam filsafat Taoism mengenal TianZun, 3 masa SANDAI TIANZUN三代天尊, dan 5 kaisar penguasa arah. Adapun 3 Tianzun yaitu 元始天尊 YuanShi TianZun atau Tian Zun masa lampau, 玉皇天尊 YuHuang TianZun atau TianZun masa sekarang, dan 金闕玉晨天尊 JinQie YuChen TianZun atau TianZun masa yang akan datang. Selain itu, terdapat lima kaisar penguasa arah WUFANG DIJUN 五方帝君 yaitu Kaisar Timur 青靈帝君 QingLing DiJun, Kaisar Selatan 靈丹帝君 DanLing DiJun, Kaisar Barat 皓靈帝君 HaoLing DiJun, Kaisar Utara 玄靈帝君 XuanLing DiJun, dan Kaisar Pusat 神元帝君 Shen Yuan DiJun.

Tianzun penguasa waktu dan 5 kaisar penguasa arah digambarkan seperti 3 garis spiral yang selalu bergerak pada lembaran kertas yang melambangkan arah dan kertas tersebut dapat dilipat untuk melipat arah dan waktu menjadi satu kesatuan. Dasar-dasar inilah yang nantinya akan menjadi dasar landasan bahwa kesialan seseorang dapat diprediksi dan diatasi. Cara mengatasinya dengan melakukan ritual tolak bala.

Jenis-jenis tolak bala (ciswak atau zhisha) 制煞 sendiri beragam seperti: Penghormatan Bintang atau Li Dou 禮斗, Badan Pengganti atau Ti Shen 替身 ( e.g Caoren草人,Ku An Hei 哭暗黑), Lentera atau RanDeng 燃燈 (e.g QiXing Deng 七星燈 ), berdasarkan Sanshi shu 三世書, An TaiSui 安 太歲, dan memotong TaoHua (“靥一).

Zhisha atau tolak bala sendiri juga memiliki beberapa pola, yaitu:

  1. Berkaitan dengan 四象 si xiang, 4 pola, 4 musim, 4 arah, 4 binatang suci (XuanWu 玄武, zhuQue 朱雀, QingLong 青龍, BaiHu 白虎).
  2. Memiliki perhitungan dengan ranting bumi dan cabang langit Mis: JuMen 巨門 untuk Chou 丑 (shio Sapi) dan Hai 亥 (shio babi). Misalnya, 60 TaiShui (60 JiaZi) Tahun 2006 adalah tahun BingXu 丙戌 dan nama TaiShui adalah jendral BaiMin 白敏將軍, tahun 2007 adalah tahun DingHai 丁亥nama TaiShui adalah jendral FengJi 封濟將軍.
  3. Berkaitan dengan 5 hubungan atau pergerakan (terkadang disebut 5 unsur) 五行 dengan menggunakan bendera 5 warna.
  4. Menggunakan lentera, terkadang disebut 本命燈 BenMing Deng atau Lentera Kehidupan. Misalnya menggunakan rasi bintang dan memasang formasi lentera, misalnya dengan formasi 9 Bintang 九星 atau 7 bintang.
  5. Menggunakan badan pengganti atau TiShen, dimana ada beberapa ragam, yang umum menggunakan rumput dan diikat menjadi 36 ruas, ada yang menggunakan kayu manis diukir, ada yang menggunakan ShouJin (ThiKong Kim) dan dibentuk menjadi manusia, ada yang menggunakan syair dan ditempel didepan pintu rumah (Shou Jing/Ku An Hei), dan ada yang menggunakan batu dan digambari pola 5 hubungan.
  6. Menggunakan Fu 符 (talisman), misalnya TaiShui Fu太歲 符, Gui Fu 五鬼符, Tian Gou Fu天狗符, BaiHu Fu白虎符
  7. Beberapa ritual menggunakan fu符, zhou 咒 (mantra), shou jue手 訣 (mudra), bu gang 步罡 (langkah bintang/kaki).

Tolak bala tidak hanya berkaitan dengan rezeki saja, tapi lebih kearah mengembalikan keseimbangan alam yang jika tidak seimbang, maka bencana akan menimpa. Banyak orang beranggapan ciswak atau tolak bala bisa mengembangkan Wu Fu 五福 (5 rezeki atau kebahagiaan yaitu Rezeki, Kekuasaan, Panjang Umur, Kesenangan atau Anak, dan Kekayaan). Namun, bukan wufu ini yang menjadi target upacara ciswak. Terlebih wufu yang disebutkan di atas adalah wufu zaman sekarang yang lebih dipengaruhi oleh prinsip materialisme. Pada masa lampau, yang dimaksud 5 kebahagiaan adalah: panjang umur 一曰壽, berkecukupan atau makmur 二曰富, sehat dan tenang 三曰康寧, berbudi baik 四曰好德, dan meninggal dengan tenang 五曰善終.

Orang yang dapat berjalan selaras dengan hukum alam semesta dapat meraih 5 kebahagiaan atau 5 rezeki tersebut. Jadi, tujuan ciswak adalah mengembalikan keseimbangan alam dan menolak hal-hal buruk yang menimpa sehingga dapat mencapai kelima rezeki tersebut yang mana di antaranya adalah berbudi baik, sehat dan tenang batiniah. Maka, salah jika terdapat anggapan ciswak dapat memupuk kekayaan tapi tidak mengembangkan budi baik adalah salah. ar

UNSADA

Social Links