Jl. Taman Malaka Selatan - Pondok Kelapa - Jakarta Timur 13450
021 8649053
humas@unsada.ac.id

International Workshop on Risk and Crisis Management Hasil Kerja Sama Unsada dengan Chiba Institute of Science

Jakarta, 21 Februari 2020 – Universitas Darma Persada (UNSADA) bekerja sama dengan Chiba Institute of Science (CIS) menyelenggarkan International Workshop mengenai Risk and Crisis Management dengan mengangkat tema “Policy and Program Health Management and Kamishibai Method.” Seminar ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara UNSADA dengan CIS dengan dihadiri secara langsung oleh Plt. Rektor Dr. Tri Mardjoko, S.E., M.A., beserta jajaran dan Dr. Shozo Azuma, Vice President of Department of Risk and Crisis Management System – Chiba Institute of Science. Workshop yang diselenggarakan di Grha Wira Bakti tersebut mengundang Dr. Ir. Udrekh, SE., MSc.. selaku Direktur Sistem Penanggulangan Bencana pada Deputi Bidang Sistem dan Strategi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Prof. Dr. Ryo Tanaka, Ph.D., selaku Program Director Chiba Institute of Science, dan Ass. Prof. Yoshinobu Sakurai, M.A., selaku Principal Instructor Chiba Institute of Science.

Dalam sambutannya, Azuma menegaskan pentingnya Risk and Crisis Management untuk menanggulangi bencana yang memang tidak mudah ditebak kedatangannya. Chiba Institute of Science merupakan institusi di Jepang yang menyediakan pendidikan mengenai hal tersebut dalam program studi Master maupun Doktor. Azuma mengakui sangat ingin bekerja sama dengan Indonesia mengingat kawasan Indonesia yang terletak di ring of fire yang rawan bencana dan keinginan tersebut terlaksana dengan ditandatanganinya MoU dengan UNSADA dan diselenggarakannya seminar ini.

Menanggapi sambutan Wakil Rektor CIS tersebut, Tri mengapresiasi keinginan CIS bekerja sama dengan UNSADA. Menurut Tri, respon terhadap bencana merupakan hal yang sangat penting dalam situasi yang sangat kritis sehingga perlu mengambil keputusan yang tepat. Melalui seminar ini, pengetahuan mengenai Risk and Crisis Management dapat ditingkatkan terutama kepada para peserta seminar yang sebagian besar merupakan bagian dari lembaga penanggulangan bencana.

Mengawali presentasi pertama, Udrekh menyampaikan “Kebijakan dan Strategi dalam Membangun Ketahanan Bencana.” Saat ini bencana cenderung meningkat dengan pola waktu dan tempat yang sulit ditebak. Karakteristik bencana pun berubah sehingga dampaknya semakin besar. Indonesia memang rentan bencana: sering kali banjir dan tanah longsor di musim penghujan, dan kekeringan maupun kebakaran hutan di musim kemarau. Tujuan dari penanggulangan bencana di antaranya memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana; menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada; menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana; menghargai budaya lokal; membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta; mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan; serta menciptakan perdamaian dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Menutup presentasinya, Udrekh menekankan bawah penanggulangan bencana merupakan urusan bersama termasuk Pemerintah Pusat dan Daerah. Penguatan kapasitas pelaku dan pemerintah di daerah merupakan kunci untuk mewujudkan ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan pun diperlukan sehingga upaya pencegahan dan mitigasi harus ditingkatkan.

Presentasi kedua disajikan oleh Tanaka dengan tema “Health Management: Prevention of the Heart Sudden Death.” Dalam paparannya, tingkat usia meninggal di Indonesia dengan Jepang cukup jauh. Di Indonesia, rata-rata usia mencapai 56 tahun sedangkan di Jepang mencapai 80 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup seperti makanan yang tidak sehat, kurang olah raga dan kebiasaan merokok sehingga mengakibatkan penyumbatan darah, obesitas, diabetes, stroke hingga serangan jantung. Gejala gagal jantung sendiri menjadi penyebab 60% kematian saat sedang tidur. Gejalnya di antaranya cepat lelah, panas tubuh yang tinggi, sakit kepala, tidak nafsu makan, bahu yang nyeri dan kaku, serta mati rasa. Untuk mengantisipasinya, Tanaka menyarankan untuk memperbaiki gaya hidup sejak dini karena penyakit-penyakit ini memang muncul saat usia dewasa. Semakin dini memperbaiki gaya hidup, semakin besar potensi terhindar dari penyakit-penyakit tersebut.

Terakhir, Sakurai mempresentasikan “Kamishibai Method” dalam menanggulangi bencana. Kami dalam bahasa Jepang berarti kertas dan shibai berarti sandiwara. Kamishibai sendiri merupakan cara tradisional Jepang dalam mempresentasikan dongeng dalam objek berupa gambar. Sambil menunjukkan gambar-gambar tersebut, Sakurai membacakan teks yang berisi mengenai penanggulangan bencana. Kamishibai mirip dengan wayang yang ada di Indonesia. Orang yang menyajikan Kamishibai disebut dengan Kamiman. Melalui cara tradisional ini, penanggulangan bencana dapat disebar luaskan dengan cara yang menarik berupa gambar kepada peserta seminar. ar






Leave a Reply

WhatsApp chat