Bedah Buku Prof. Albertine Minderop Berjudul “Analisis Prosa” dalam Telaah Kritis Sastra dan Hukum dalam Konteks Amerika dan Dunia

Jakarta, 10 Desember 2019 – Prof. Dr. Albertine Minderop, M.Si, dosen jurusan Bahasa dan Kebudayaan Inggris Universitas Darma Persada bersama Prof. Marten Napang, S.H., M.S.i, M.A., hadir dalam acara bedah buku yang bertajuk “Mencari Esensi Kemanusiaan Kita: Telaah Kritis Sastra dan Hukum dalam Konteks Amerika dan Dunia.” Digelar di Gedung IASTH kampus salah satu perguruan tinggi negeri di Salemba, acara ini dimulai sejak pukul 14:00 WIB pada Selasa, 10 Desember 2019 bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Buku karya Prof. Albertine yang dibedah secara rinci dalam kegiatan ini berjudul “Analisis Prosa” sedangkan buku karya Prof. Marten berjudul “Sejarah Kejahatan HAM Internasional.” Selain itu, acara yang digagas oleh American Studies Society of Indonesia ini juga menghadirkan Henny Saptatiani D.N, S.S., M.A.,PhD dan DR Marghareta Hanita S.H.,M.Si sebagai pembahas.

Dalam buku “Analisis Prosa”, dijumpai banyak pembahasan mengenai sastra dari sudut pandang akademik. Termasuk di dalamnya berbagai teori sastra yang menjadi penyegaran kembali bagi yang pernah kuliah di fakultas sastra sekaligus pencerahan bagi yang lain. Sembilan karya sastrawan Amerika dan Inggris yang dibahas dalam buku ini merupakan hasil karya klasik karena ditulis pada abad ke 19 dan awal abad 20.

Nathaniel Hawthrone (1804-1864) merupakan penulis favorit Prof. Albertine yang juga pernah menulis buku berjudul “Psikologi Sastra.” Penulis Amerika yang hidup di masa romantisme ini memiliki dua karya yang paling fenomenal yaitu The Scarlet Letter dan Minister’s Black Veil. Yang menarik adalah Hawthrone mengkritik keras atas standar moral dan kemunafikan kaum puritan dan  pemuka agama di Amerika pada saat itu dalam karyanya. Diungkapkan pula bahwa Hawthrone sempat menulis biografi presiden Amerika ke 14, Franklin Pierce dan bertugas sebagai konsul di Liverpool.

Selain itu,  dalam buku ini, Prof. Albertine juga membahas karya penulis Eugene O’Neill (1888-1953) yang berjudul Mourning  Becomes Electra. Karya ini menceritakan sebuah tragedi yang melibatkan suatu keluarga dimana terjadi percintaan Oedipus Complex antara ibu dan anak, serta Electra Complex antara ayah dan anak.

Theodore Dreiser (1871-1945) dengan dua karya yang monumental yaitu Sister Carrie dan Jenni Gerhardt turut dibahas dalam buku ini. Kedua buku ini pun mengisahkan tragedi yang memilukan tentang perempuan muda, cantik namun tidak berpendidikan yang dapat sukses di kota besar.

Kemudian, dibahas pula penulis kondang William Sommerset Maugham (1874-1965) dengan karyanya berjudul Up at the Villa. Karya ini menceritakan tentang seorang janda cantik yang tinggal di sebuah villa.

Tidak hanya novel, sebuah kisah drama yang sering tampil di Broadway turut dibedah dalam buku ini. Come Back Little Sheba merupakan karya William Motter Inge (1913-1973) yang menceritakan  perjuangan seorang wanita bernama Lola yang harus mengurus suaminya yang kecanduan alkohol.

Selanjutnya, buku Prof. Albertine ini pun membedah sebuah karya yang menggambarkan bobroknya sistem peradilan dengan judul Justice karangan John Galsworthy (1867-1933).

Terakhir, sebagai penutup, dalam buku ini dibahas karya George Orwell (1903-1950) berjudul Animal Farm yang yang merupakan satir dengan berbagai jenis hewan sebagai tokoh cerita. Orwell juga cukup dikenal dengan novel berjudul 1984 yang menggambarkan kehidupan di balik tirai besi negara komunis.

Selesainya membedah buku Prof. Albertine, acara dilanjutkan dengan membahas karya Prof. Marten Napang yang berjudul “Sejarah Kejahatan HAM Internasional.”Buku ini membahas segala kisah tentang kejamnya pelanggaran berat atas HAM yang dilakukan baik oleh negara maupun kelompok masyarakat di berbagai tempat di dunia.

Meski kedua buku ini bertema berbeda yakni hukum dan sastra, namun terdapat banyak benang merah yang dapat ditarik dari keduanya. Hal ini berdasarkan pandangan Prof. Marten yaitu hukum pun sesungguhnya merupakan seni. Bahkan dalam pelanggaran HAM berat sering memperlihatkan politik sehingga sering timbul pertanyaan mana yang lebih baik antara menjadikan hukum atau politik sebagai panglima. ar 

Leave a Reply