Adab Kesantunan dalam Perkuliahan Daring – Pragmatic and Sociolinguistic of Politeness

Jakarta, 2 Desember 2020 – Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris Fakultas Bahasa dan Budaya Universitas Darma Persada menyelenggarakan webinar dengan tema “Adam Kesantunan dalam Perkuliahan Daring – Pragmatic and Sociolinguistic of Politeness.” Seminar virtual ini menghadirkan narasumber Dr. Ifan Iskandar, M.Hum, yang saat ini menjadi dosen Prodi Bahasa dan Seni salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Selain itu, narasumber kedua yang dihadirkan adalah Fridolini, M.Hum, dosen linguistik Prodi Bahasa dan Kebudayaan Inggris UNSADA. Pada kesempatan ini, Dr. Yoga Pratama, M.Pd., yang menjabat sebagai Ketua Jurusan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris bertindak sebagai moderator.

Menurut Dr. Ifan Iskandar, M.Hum, kesopanan menandakan ciri kebahasaan yang berhubungan dengan norma sosial perilaku, dalam kaitannya dengan pengertian seperti kesopanan, hubungan baik, rasa hormat dan jarak. Fitur-fiturnya mencakup penanda wacana tertentu, nada yang sesuai suara, dan bentuk sebutan yang dapat ditoleransi. Poin vokal dan instrumental adalah makna dan konteks (individu dan sosial budaya). Makna leksikal bersifat umum; makna tekstual bersifat khusus diikat oleh koteks (kalimat yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah kalimat dalam wacana); dan makna kontekstual bersifat terbatas dan berubah karena konkrit oleh konteks yang ada di pikiran yang berubah karena dinamika pengetahuan dan pengalaman.

Pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari bahasa dari sudut pandang pengguna, terutama pilihan yang mereka buat, kendala yang mereka hadapi dalam menggunakan bahasa dalam interaksi sosial, dan pengaruh penggunaan bahasa mereka peserta lain dalam tindakan komunikasi. Kompetensi pragmatis mengetahui apa yang harus diketahui pembicara untuk menafsirkan dan menyampaikan makna dalam komunikasi, sedangkan kompetensi sosiolinguistik mengetahui sejauh mana ucapan diproduksi dan dipahami dengan tepat dalam berbagai cara konteks sosiolinguistik tergantung pada faktor kontekstual seperti status peserta, tujuan interaksi, dan norma atau konvensi interaksi.

Plurilingualisme sendiri harus dilihat dalam konteks plurikulturalisme. Bahasa bukan hanya aspek utama budaya, tetapi juga sarana akses ke manifestasi budaya. Kompetensi budaya seseorang, ragam budaya (nasional, daerah, sosial) di mana orang tersebut telah memperoleh akses tidak hanya berdampingan di samping; mereka dibandingkan, dikontraskan, dan secara aktif berinteraksi untuk menghasilkan kompetensi majemuk yang diperkaya dan terintegrasi, di antaranya plurilingual kompetensi adalah satu komponen, sekali lagi berinteraksi dengan komponen lain. Komunikasi interaksional tertulis dalam kelas online (ciri-ciri bahasa tertulis dimana teks tertulis merupakan kode-kode yang melibatkan ciri-ciri paratextual), komunikasi presentasi audio-visual (fitur bahasa lisan di mana teks lisan adalah kodenya), dan kelas online komunikasi audio visual (fitur bahasa lisan dan teks tertulis adalah kode melibatkan fitur paralinguistik).

Pada sesi berikutnya, Fridolini, M.Hum, memaparkan “Kesantunan dalam Bahasa.” Berbahasa adalah berkomunikasi yang dapat berupa bercakap-cakap. Percakapan merupakan Interaksi Verbal yang melibatkan dua pihak atau lebih yang berlansung secara tertib dan teratur untuk mencapai tujuan terntentu sebagai wujud peristiwa komunikasi.

Pragmatik adalah area bahasa yang menyangkut aturan tentang penggunaan bahasa dalam konteks sosial tertentu yaitu tentang apa yang patut dikatakan, bagaimana mengatakannya, kapan boleh mengatakannya, dan bagaimana agar Bahasa yang dipakai bisa diterima orang lain (Bowen 2001). Dengan kata lain, bidang ini meliputi kompetensi sosial seorang penutur bahasa. Agar bisa diterima dalam suatu masyarakat bahasa seorang penutur perlu memahami benar aturan yang berlaku dalam masyarakat tersebut termasuk pemahaman tentang penggunaan yang tepat dan sesuai atas fungsi-fungsi bahasa atau tindak tutur (speech acts) tertentu.

Kesantunan berbeda dengan kesopanan. Kesopanan dipengaruhi oleh rasa hormat kepada mitra tutur, sedangkan kesantunan dipengaruhi cara berbahasa, berperilaku dan jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. 

Pandangan kesantunan diutarakan oleh beberapa ahli linguistik. Menurut Leech, terdapat 6 maksim, di antaranya: 1. Maksim Kebijaksanaan yaitu para peserta tindak tutur berpegang pada prinsip mengurangi kepentingannya sendiri, dan mementingkan kepentingan orang lain dalam kegiatan bertutur; 2. Maksim Kedermawanan yaitu para peserta pertuturan diharapkan menghormati mitra tutur dengan memaksimalkan mitra tuturnya dengan terkadang menambah beban bagi dirinya; 3. Maksim Penghargaan yaitu petutur dianggap santun apabila memberi penghargaan pada pihak lain, tidak saling mengejek atau merendahkan di antara petutur; 4. Maksim Kesederhanaan yaitu peserta tutur diminta rendah hati dan mengurangi pujian bagi dirinya sendiri; 5. Maksim Kecocokan yaitu para peserta tutur saling membina kecocokan dengan peserta tutur dalam kegiatan bertutur; dan 6. Maksim Kesimpatian yaitu para peserta tutur diharapkan dapat memaksimalkan sikap simpati antara satu dengan yang lain.

Ahli linguistik lainnya, Brown dan Levinson, memfokuskan teori kesantunan pada konsep muka (face). Para pakar ini memakai istilah “penyelamatan muka” (facesaving view) dengan menerangkan bahwa kesantunan dilakukan untuk menyelamatkan muka penutur dan lawan tutur yang terdiri dari positif dan negatif. Muka positif merupakan citra positif yang dimiliki orang terhadap dirinya sendiri dan hasrat untuk mendapatkan persetujuan. Sementara muka negatif merujuk pada tuntutan dasar manusia terhadap wilayah, bagian pribadi, dan hak-hak untuk tidak diganggu.

Menurut Brown dan Levinson terdapat 4 bentuk kesantunan, di antaranya yang pertama Keinginan Wajah yaitu di dalam interaksi sosial sehari hari, orang pada umumnya berlaku seolah-olah ekspektasi mereka terhadap self-image yang mereka miliki akan dihargai orang lain. Jika seorang penutur mengatakan sesuatu yang merupakan ancaman terhadap ekspektasi orang lain mengenai self image mereka, tindakan tersebut dikatakan sebagai Face Threatening Act. Sebagai alternatif, seseorang dapat mengatakan sesuatu yang memiliki kemungkinan ancaman lebih kecil. Hal ini disebut sebagai Face Saving Act. Selanjutnya, yang kedua Negative and Positive Face. Negative face adalah kebutuhan untuk mandiri dan positive face adalah kebutuhan untuk terkoneksi (menjalin hubungan). Sehubungan dengan negative face, maka dapat disimpulkan bahwa FSA berorientasi pada negative face dan mementingkan kepentingan orang lain, bahkan termasuk permintaan maaf dari gangguan yang diciptakan. FSA dinamakan negative politeness. Sedangkan FSA yang berorientasi terhadap positive face seseorang akan cenderung menunjukkan solidaritas dan menekankan kepada kedua belah pihak kedua (penutur dan mitra tutur) menginginkan hal yang sama dan tujuan yang sama pula. FSA dalam bentuk ini dimakan positive politeness. Yang ketiga adalah Negative and Positive Politeness. Negative Politeness memberikan perhatian pada Negative Face, dengan menerapkan jarak antara penutur dan mitra tutur dan tidak mengggangu wilayah satu dengan yang lain. Penutur menggunakannya untuk menghindari paksaan, dan memberikan mitra tutur pilihan. Penutur dapat menghindari kesan memaksa dengan menekankan kepentingan orang lain dengan menggunakan permintaan maaf, atau mengajukan pertanyaan yang memungkinkan untuk menjawab “tidak.” Yang terakhir, Superstrategies dalam Kesantunan yaitu dalam setiap tindak tutur, kita selalu memiliki banyak ekspresi tuturan. Brown dan Levinson menyarankan beberapa superstrategies bagi pengguna bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan cara yang sopan seperti tidak mengatakan sesuatu namun melakukan tindakan yang memungkinkan orang lain menginterpretasikan maksud kita, mengatakan sesuatu secara off the record sehingga orang lain mengerti maksud kita tanpa mengancam muka mitra tutur, atau mengatakan sesuatu secara on record yang lebih besar dimengerti mitra tutur mengenai maksud kita namun dapat mengancam muka mitra tutur. Untuk menghindari hal tersebut, kita dapat melakukan Face Saving Acts yang menggunakan strategi kesopanan positif dan negatif untuk meredam ancaman.

Selanjutnya, ahli linguistik pertama yang menemukan teori kesopanan, Robin Lakoff, mengusulkan kesopanan terdiri dari tiga hal yaitu 1. Jangan memaksakan (Jarak) artinya perlunya menjaga jarak dengan lawan bicara. Jarak disini berarti seberapa dekat hubungan penutur dengan mitra tutur. Ini bisa dalam hal usia, hubungan keluarga, pekerjaan, dll. Aturan kesopanan ini biasanya diterapkan ketika ada jarak sosial yang jauh antara pembicara dan pendengar; 2. Berikan opsi artinya untuk bersikap sopan, penutur tidak bisa memaksa perintah, keinginan, atau permintaan kepada mitra tutur. Oleh karena itu, penutur perlu memberikan pilihan kepada lawan bicara dalam memberikan respon untuk menolak atau menerima; dan 3. Membuat mitra tutur merasa nyaman artinya menekankan kedekatan antara penutur dan pendengar. Diyakini bahwa bersikap baik dan ramah kepada lawan bicara adalah tanda kesopanan. Selain itu, dalam Rule 3 ini cenderung menggunakan ekspresi informal untuk mengekspresikan rasa solidaritas antara pembicara dan pendengar.

Menurut Lakoff, bersikap sopan dalam hal bahasa penting karena fungsi bahasa itu sendiri adalah untuk menyampaikan informasi, dan harus digunakan dengan sopan. Ketika kita berbicara tidak hanya memperhatikan informasi tetapi juga efek yang akan ditimbulkan oleh kata-kata kita terhadap lawan bicara. Meskipun pesannya jelas, menyampaikannya dalam bentuk yang tidak tepat dapat menimbulkan salah paham. Dengan demikian, kesopanan dan kesantunan adalah poin penting dalam interaksi manusia, menjaga hubungan yang baik, menghindari memaksakan, dan memberi orang lain beberapa pilihan.

Dapat disimpulkan bahwa berbahasa adalah kesadaran timbal balik mitra tutur diharapkan berekspresi seperti penutur berekspresi. Kesantunan berarti memperhatikan jarak sosial yang mengatur tata krama penutur dan mitra tutur dalam santun berbahasa. Santun juga berarti tidak mengancam wajah dan tidak mengatakan hal-hal yang bermuatan ancaman pada mitra tutur. Selain itu, santun juga berarti tidak mencoreng muka penutur dan mitra tutur. Santun berarti tidak memaksakan kehendak dan memberikan mitra tutur pilihan. Terakhir, santun berarti membuat mitra tutur nyaman. ar

Leave a Reply

WhatsApp chat