tttttttttt Blog – Page 8 – Universitas Darma Persada

Program Studi

Lembaga

Penelitian

Pengabdian

 

UNSADA

Terakreditasi, Penguasaan Tiga Bahasa (Indonesia, Inggris dan Jepang), Berbasis ICT, Beasiswa, Magang kerja, Bis Kampus.

Brosur

Jakarta, 14 Januari 2017 – Universitas Darma Persada bekerja sama dengan Japan Foundation menyelenggarakan seminar internasional bertema “Penggunaan Bahasa Jepang dalam Spirit Monozukuri.” Seminar yang bertempat di Grha Wira Bakti ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Unsada, Dr. Mochammad Solichin, M.Pharm., beserta jajaran, perwakilan Yayasan Melati Sakura, dan peserta seminar yang berasal dari dosen dan mahasiswa-mahasiswi jurusan Sastra Jepang beberapa perguruan tinggsi swasta Indonesia, serta siswa-siwi tingkat Sekolah Menengah Atas. Seminar yang berlangsung sejak pukul 09:30 ini menghadirkan 4 pembicara diantaranya Joko Prasetyo, M.Pd. dari Universitas Surabaya, Ir. Ahmad Rozak dari Toyota, Fumio Okita M.A. dari Office Okita, dan Dr. Suzy Ong dari Universitas Darma Persada.

Presentasi pertama yang bertema “Meningkatkan Soft-Skill Sumber Daya Manusia melalui Kuliah Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Jepang” disajikan oeh Joko yang menjelaskan bahwa monozukuri merupakan pekerjaan yang dilakukan untuk membantu kehidupan manusia yang mendasarkan pada asas kebergunaan/manfaat suatu benda/produk bagi manusia. Monozukuri tidak hanya dilakukan tanpa memaksakan kehendak produsen pada suatu produk, melaiankan didasarkan kepada sifat dan kehidupan manusia secara alami.  Monozukuri harus didasarkan pada kesadaran menghargai produk, makna membuat produk dan bagaimana suatu produk bisa bermanfaat untuk alam. Hikmah yang bisa diambil oleh banyak orang dari monozukuri ialah pada prosesnya. Meski monozukuri lebih dikenal di dunia ekonomi, bisnis dan industri, namun jiwa dari monozukuri dapat diterapkan pada segala bidang, termasuk pada bidang pendidikan. Banyaknya pelajaran yang diperoleh dari proses dalam monozukuri menjadikan proses tersebut sebagai pembentukan kualitas sumber daya manusia. Dalam dunia pendidikan, pengembangan soft-skill sumber daya manusia menjadi salah satu target dari kurikulum pendidikan Indonesia saat ini. Oleh karena itu, “Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Jepang” sebagai mata kuliah diharapkan meningkatkan kecakapan mahasiswa karena menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa untuk bisa mempelajari proses pembuatan media dari awal sampai akhir dan kemudian mempraktekkannya.

Selanjutnya, presentasi yang berjudul “Tantangan Lulusan Sastra Jepang di Industri Manufaktur Jepang” disajikan. Rozak membaginya dalam 4 bahasan dengan bahasan pertama mengenai kesempatan karir lulusan sastra Jepang seperti penterjemah dan pengajar bahasa Jepang, staf di konsulat atau kedutaan besar Jepang, maupun peneiliti sastra dan budaya Jepang  dengan Bahasa Jepang sebagai skill utama. Selain itu, terdapat kesempatan kerja lainnya seperti sekretaris/staf di perusahaan Jepang dan wirausaha dengan perusahaan Jepang yang membutuhkan kemampuan tambahan selain bahasa Jepang. Selanjutnya, bahasan kedua menjelaskan mengenai industri manufaktur Jepang di Indonesia dengan  berbagai kategori seperti otomotif, elektronik, alat berat, konstruksi, makanan, maupun komestika. Selain itu, pada bahasan ketiga Rozak juga menjelaskan mengenai hambatan yang dihadapi oleh karyawan baru di perusahaan manufaktur Jepang seperti istilah umum teknik, istilah khusus internal perusahaan maupun istilah bahasa Inggris yang berubah ke bahasa Jepang. Rozak menutup dengan bahasan terakhir mengenai tantangan yang harus dipersiapkan seperti membuat kurikulum yang link & match dengan dunia kerja, melakukan kunjungan untuk lebih memahami situasi dan kondisi dunia kerja yang diharapkan, serta melakukan internship untuk bekal sebelum kerja.

Pada sesi berikutnya, Okita menyampaikan presentasi yang berjudul “Japanese Language and Japanese Corporate Culture” yang membahas mengenai kebudayaan dan bahasa Jepang berikut dengan pola kalimat yang berbeda antara bahasa Jepang dan Indonesia. Pola kalimat yang meletakkan kata kerja pada akhir kalimat dalam bahasa Jepang mengharuskan pendengar untuk mendengarkan si pembicara hingga selesai untuk mengetahui maksud si pembicara.  Dalam presentasinya, selain membahas mengenai Indonesia dan keberagamannya, Okita juga menjelaskan mengenai keywords dalam monozukuri seperti kerja tim, mengutamakan proses, dan berkelanjutan. Di Jepang terdapat kata-kata mutiara yang dijadikan prinsip masyarakat Jepang. Diantaranya, terdapat Sossen Suihen yang berarti seorang pemimpin yang pertama melakukan terlebih dahulu atau dengan kata lain memberikan contoh di depan kepada anggota timnya. Menutup presentasinya, Okita menjelaskan mengenai kebaikan 3 pihak yaitu kebaikan yang tidak hanya diperoleh oleh penjual, namun juga oleh pembeli serta masyarakat.

Seminar ini ditutup dengan presentasi terakhir dari Susy yang membahas bagaimana perusahaan Jepang membangun ‘budaya korporasi Jepang’ yaitu disiplin, tepat waktu, akurat, pasti, kerja sesuai prosedur dan instruksi kerja yang jelas, tidak menyimpang, tanggung jawab hingga pekerjaan selesai dengan sempurna, usaha yang berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi kerja, kaizen. Tujuan korporasi sejatinya adalah mencari laba, sedangkan tujuan penerapan budaya korporasi adalah memaksimalkan laba. Budaya korporasi tidak hanya berlaku di dalam perusahaan, melainkan menjadi bagian dari praktek sehari-hari dalam masyarakat Jepang. Susy menyampaikan bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan sebagai manusia yang disiplin sehingga manusia menjadi disiplin karena diajarkan dan dilatih untuk menjadi disiplin.  Berkembangnya institusi masyarakat modern seperti sekolah, pabrik, kereta api, dan tentara menjadi barometer modernitas suatu negara dan tingkat disiplin warga negara tersebut. Gerakan disiplin nasional Jepang sendiri dimulai dari pendidikan formal dan pendidikan luar sekolah. Budaya korporasi Jepang dibangun dengan tujuan meningkatkan daya saing perusahaan, melalui usaha belajar dari pihak lain seperti Amerika atau negara Eropa lain dan kemampuan untuk terus berubah yang disebut kaizen. Belajar dari korporasi Jepang berarti meniru sikap korporasi Jepang yakni antusias untuk terus belajar dan berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik. ar

Seminar Monozukuri

Jakarta, 13 Januari 2017 – Fumio Okita, M.A. yang merupakan mantan direktur PT Marubeni Indonesia memberikan kuliah umum mengenai Bahasa dan Kebudayaan Korporasi Jepang kepada mahasiswa-mahasiswi jurusan Sastra Jepang dan juga dosen Universitas Darma Persada. Seminar yang diadakan di ruang TS 60 tersebut, juga dihadiri langsung oleh Rektor Unsada, Dr. H. Dadang Solihin, S.E., M.A., beserta jajaran. Membuka seminar ini, Dadang menjelaskan bahwa monozukuri bukan hanya slogan bagi Unsada, melainkan visi-misi yang telah masuk dalam kurikulum dan menjadi orientasi pengembangan Unsada sendiri.

Okita membagi seminar ini menjadi tiga yaitu mengenai Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Bahasa dan Kebudayaan Indonesia, dan Memahami Kebudayaan Jepang dan Jepang melalui Bahasa Jepang. Mengawali seminarnya, Okita menjelaskan bahwa Bahasa Jepang yang menjadi bahasa nasional Jepang saat ini diambil dari Bahasa Jepang yang berkembang di Edo (Tokyo saat ini) yang mana dialeknya paling mudah dipahami. Hal ini dilakukan oleh pemerintahan modern Jepang yang berdiri setelah tumbangnya pemerintahan Tokugawa yang merasa keberagaman dialek yang dimiliki Jepang saat itu menghambat komunikasi. Bahasa Jepang yang telah ada sejak 260 tahun ini mengadopsi huruf dari Cina yang dikenal sebagai Kanji yang kemudian dimodifikasi menjadi hiragana dan katakana untuk lebih mudah dipahami. Dalam penyusunan kalimat dalam bahasa Jepang, haruslah runtut sesuai pola yang menempatkan predikat di ujuang kalimatnya sehingga pendengar haruslah mendengarkan pembicara hingga tuntas untuk mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh pembicara. Seperti halnya dalam menyusun kalimat, urutan dalam monozukuri merupakan hal yang paling penting. “Jika tidak dijalankan (sesuai urutan), tidak akan berhasil,” tegas Okita.

Okita juga menjelaskan mengenai PDCA cycle dan Kaizen kepada audiens. Dalam PDCA Cycle, suatu organisasi harus merencanakan dengan baik, menjalankan sesuai rencana, mengecek hasil yang diperoleh, dan jika dijumpai kegagalan, aksi apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya. Tidak berhenti disitu, proses ini harus terus diperbaiki untuk mencapai hasil yang optimal sesuai konsep Kaizen. Sebagai contoh, seorang pelajar yang harus sampai di sekolah pukul 09:00 berangkat ke sekolah pada pukul 08:00 dengan asumsi perjalanan satu jam dan ternyata terlambat 30 menit. Pelajar tersebut berencana sampai ke sekolah tepat waktu, namun pada pelaksanaan keberangkatan pukul 08:00 mendapatkan hasil keterlambatan 30 menit. Untuk memperbaikinya, pelajar tadi berangkat lebih awal yaitu 07:30 yang kemudian sampai di sekolah 10 menit lebih awal. Okita menutup seminar ini dan akan melanjutkan kembali dengan penjelasan mengenai teamwork, pengutamaan proses, dan berkelanjutan pada kesempatan berikutnya. ar

Universitas Darma Persada mendapat kunjungan dari Papuan Centre  yang diwakili oleh Elang O Rrubra selaku pendiri, Franky Umpain selaku Direktur Eksekutif dan Agustinus D. Ohee selaku Sekretaris Eksekutif pada hari Jum’at, 6 Januari 2017. Rektor UNSADA, Dadang Solihin, didampingi oleh Direktur Sekolah Pasca Sarjana UNSADA, Kamaruddin Abdullah, beserta jajarannya, menyambut baik rencana Papuan Centre yang akan mengirimkan putra-putri terbaik Indonesia untuk melanjutkan studi di jenjang Magister khususnya di Program Studi Energi Terbarukan, Sekolah Pasca Sarjana UNSADA. Menindak lanjuti niat baik tersebut, akan dibuat MoU untuk kemudian dijadikan acuan kerja sama kedua belah pihak di masa yang akan datang seperti diadakannya seminar maupun kegiatan lain yang bertujuan meningkatkan kapasitas SDM. Peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu poin penting yang disampaikan oleh Elang. Selain itu, Elang menambahkan bahwa kebutuhan energi juga menjadi keprihatinannya untuk mendapatkan solusi. UNSADA dengan satu-satunya Program Studi Energi Terbarukan di Indonesia dapat menjadi salah satu solusi terbaik menjawab keprihatinan tersebut. Kedua belah pihak berharap kerja sama yang baik akan terjalin antara UNSADA dan Papuan Centre. ar

 

Seminar yang merupakan hasil kerja sama BEM Fakultas Ekonomi dengan Himpunan Mahasiswa Akuntansi dan Manajemen, Taradhika dan Uber ini diselenggarakan di Grha Wira Bhakti Universitas Darma Persada pada hari Kamis, 5 Januari 2017. Selain itu, seminar ini juga didukung oleh Mustang88FM, Swara Unsada, Teksada, dan Unsada Photography Club. Seminar yang dimulai dari pukul 08:00 hingga 13:00 WIB ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa/i Unsada saja, namun juga mahasiswa luar Unsada dan juga masyarakat umum.

Seminar bertajuk “Digital Marketing for Start-Up Business” ini mengundang Cassandra Aprilanda selaku Manager Marketing Uber Indonesia dan Fikhanza Trimujiani selaku Digital Specialist dan Founder Hijab Speak. Seminar ini juga dimeriahkan dengan stand-up comedy  yang ditampilkan oleh Falah Akbar, dan juga lagu yang dibawakan oleh Paduan Suara Mahasiswa Taradhika. Seusai acara, para peserta seminar selain diberikan seritifkat, juga berkesempatan mendapatkan souvenir dan doorprize. ar

Jakarta – Kamatrik Yon Bushido UNSADA, Dadang Solihin, pada hari Selasa, 3 Januari 2017 bertempat di lapangan utama Universitas Darma Persada, Jakarta, secara resmi membaret para anggota baru Resimen Mahasiswa Jayakarta Angkatan Halilintar IV yang berasal dari Batalyon Bushido Universitas Darma Persada, Satuan Swiss German University, dan Satuan Universitas Trisakti yang telah menyelesaikan “Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa Jayakarta T.A. 2016” di Rindam Jaya pada 18-31 Desember 2016.

Pada kesempatan tersebut juga Kamatrik Yon Bushido menyematkan Brevet Pembebasan Sandera (Basra) kepada para Anggota Yon Bushido Angkatan Halilintar III yang menempuh pelatihan Pembebasan Sandera pada 4-6 Desember 2016 dan Brevet Pengendalian Massa (Dalmas) kepada para Anggota Satuan Keamanan UNSADA yang menempuh pelatihan Pengendalian Massa dan Penanganan Huru-hara pada 26-27 November 2016. Kedua pelatihan tersebut melibatkan para pelatih dari Paskhas Batalyon Komando 461 Cakra Baskhara TNI Angkatan Udara. ar

Proposal for Environment Grant Fund by The Graduate School has finally approved by Mitsui, & Co.Ltd

A proposal entitled “Social Development of Tangsi Jaya Hamlet Using Renewable Energy” has been finally approved by Mitsui & Co.Ltd Environment Grant Fund starting October 2016 through September 2018. Tangsi Jaya hamlet is located in West Bandung Regency , West Java , which can be reached using four wheeled car about 4 h from Jakarta. The ultimate purpose of the research project is to establish an E3i (Renewable Energy, Economy and Environment) independent village, by first conducting a survey to construct I/O Table for the hamlet. By knowing the economic structure and leading economic sector of the hamlet a Small Processing Center for Coffee will be constructed, including the construction of storage house to store the processed coffee beans. Currently the hamlet own 20 Ha of coffee plantation where the people grow Arabica coffee (70%) and Robusta coffee in the remaining area. The harvested coffee berries will later be processed in the coffee processing center. This coffee processing center will be powered by means of electricity generated from an 18 kWe micro-hydro power plant, clean renewable energy resources. Establishing the processing facility is expected to trigger the growth of other small industries in the hamlet, with the growth of several industries will increase job opportunity and, therefore, is expected to lead to poverty alleviation in the hamlet.

Project site at Tangsi Jaya hamlet, Gunung Halu, West Bandung Regency

On the 28 of November an initial survey to project site was conducted by project Management Team of UDP for Tangsi Jaya, comprising of Prof. Kamaruddin Abdullah,Dr Aep Saepul  Uyun, Mr.Jombrik, Mr Slamet Rahedi Sugeng and Ms Irna N. Djajadiningrat. The team was accompanied by 4 members of the Nanzan-kai comprising of Mr K.Tsutsui (current Chairman of the Nanzan-Kai), Mr. S.Tanaka, Mr J.Ozono and Mr H.Hosaka and staff of PT Mitsui Indonesia Mr N.Katsunishi. During the visit the team had discussion regarding the project with head of Rimba Lestari Cooperative, Mr Opan and member of the cooperative including discussion with Head of the Village Mr. Edi Kusnadi. The team later visited the location of Coffee Processing Center and Storage house, to the coffee plantation and finally visited the 18 KW micro-hydro power plant. The Nanzan-kai team was satisfied with visit after observing the project site. 

 

Location of Coffee Processing Center and storage building (left) and 18 kW micro-hydro power plant (right).

Potential of coffee plantation owned by the Tangsi Jaya community

 On the 15the of December 2016, a kick-off meeting was held in UDP, attended by Rector of UDP, Dr Dadang Solihin, Mr. N. Katsunishi form PT Mitsui Indonesia, Vice Rector III, three Deans, Head of Research Institute, Community Empowerment and External Collaboration, and related bureau of UDP. On his opening remark Rector Dadang Solihin stressed the need on how to nurture motivation of the community to involve with the project in order to make the project sustainable even after the assistance for Mitsui & Co.Ltd have been terminated. He also stressed the need of all audiences of the meeting to support the project by actively involve in it. After the opening address Prof. Kamaruddin Abdullah presented briefly on the description of the project to the audience. Mr Katsunishi responded that he will support the successful implementation of the project.  All attendees responded positively on the request by the Rector.

Opening address by Rector of UDP (left) and scene of the kick-off meeting

Mr Katsunishi from PT Mitsui Indonesia, giving his response.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seminar Haiku yang diselenggarakan pada Jumat, 23 Desember 2016 di ruang TS60 Fakultas Sastra, Unsada, merupakan sebuah acara dari hasil kerjasama antara Universitas Darma Persada, Panitia Shiba Fukio Haiku Awards dan ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia). Acara yang dimulai dari pukul 14:00 WIB ini dihadiri oleh Presiden ERIA, Prof. Nishimura Hidetoshi; perwakilan dari Panitia Seleksi Haiku, Tsushima Yasuko; sekretaris Panitia, Saito Kai; perwakilan dari majalah bulanan Kadokawa Haiku, Takaguchi Yuri; Pemenang Shiba Fukio Haiku Award, Sone Tsuyoshi; finalis Grand Final, Ikoma Daisuke; penyair dan penulis sebagai special guest, Noorca Marendra Massardi. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh Rektor Unsada beserta dosen dan mahasiswa/i Unsada.

Dalam acara tersebut, Tsushima menjelaskan mengenai apa itu Haiku. Haiku merupakan puisi pendek berpola 5-7-5 silabel. Umumnya, haiku menceritakan tentang empat musim yang ada di Jepang dengan menyisipkan berbagai macam perasaan penyair seperti keindahan alam ataupun masalah yang sedang terjadi saat ini. Shiba Fukio Haiku Awards sendiri merupakan salah satu ajang kenamaan pemilihan haiku terbaik di antara para penyair Jepang. Ajang ini melibatkan lebih dari 100 peserta yang mana setiap peserta usia 40 tahun ke bawah wajib menulis sebanyak 100 haiku untuk dapat mendaftar.

Ikoma menambahkan bahwa dia sudah mulai menulis haiku sejak usia 15 tahun. Haiku  karyanya lebih kontemporer dibandingkan dengan haiku lainnya. Lain halnya dengan Ikoma, Sone mengakui bahwa ia baru mulai menulis haiku saat berusia 27 tahun.  Haiku yang ia tulis berdasarkan pengalamannya menyaksikan dan mengalami secara langsung ‘tsunami’ yang terjadi di Jepang pada 2011 yang lalu.

Tsushima juga menyampaikan bahwa haiku tidak terbatas bagi orang Jepang maupun dalam Bahasa Jepang saja.  Haiku dapat ditulis dalam bahasa apapun selama mengikuti aturan  haiku yaitu 5-7-5 silabel. Sebagai bentuk apresiasinya, Tsushima membagikan buku saku untuk menulis  haiku bagi para peserta seminar yang telah hadir.

Acara ini kemudian ditutup dengan pembacaan haiku yang ditulis oleh Noorca. Haiku  tersebut dibuat berdasarkan pengalamannya saat berada di Aceh beberapa hari pasca tsunami Aceh 2004. Ia menyampaikan perasaannya melalui haiku yang ia buat spontan tersebut. ar

Seminar yang diadakan di ruang Seminar FTK, Unsada pada hari Kamis, 22 Desember 2016 diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Universitas Darma Persada. Seminar yang bertajuk “Peningkatan Kesadaran Bela Negara di Provinsi DKI Jakarta
Angkatan V tahun 2016” ini menghadirkan pemateri tidak hanya dari Unsada tapi juga dari Swiss German University dan Polda Metro Jaya.  Para pemateri tersebut di antaranya Dr. H. Dadang Solihin, S.E., M.A., Dr. Ir. Gembong Baskoro, M.Sc., AKBP Sukardi, dan Samtidar Effendy Tomagola, S.Kom., M.Pd.

Pada sesi pertama, Dadang menyampaikan bahwa bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya. Dadang menambahkan bahwa seharusnya Pancasila menjadi ideologi bukan menjadi cita-cita.

Dilanjutkan dengan sesi kedua, Gembong menandaskan bahwa teknologi merupakan hal yang tidak bisa dihindari lagi dan penggunaannya tergantung pada kebijakan pengguna. Oleh karena itu, pengguna teknologi haruslah mampu mengontrol diri dari gempuran teknologi dan waspada terhadap teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan lain. Dengan demikian akan tercipta ‘Smart World’ karena dunia yang cerdas diawali oleh orang-orang yang cerdas.

Pada sesi ketiga, Sukardi melihat bahwa penaklukan hal-hal besar dimulai dari kemampuan untuk menaklukan diri sendiri. Sehingga, semua hal haruslah dimulai dari diri sendiri, seperti menaklukan emosi dalam diri dan tidak mudah terprovokasi.

Sesi terakhir yang disampaikan bertajuk “Perwujudan Bela Negara sebagai Bentuk Cinta Tanah Air dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.” Pada sesi ini, Samtidar mengemukakan bahwa seperti halnya tidak bisa memilih orang tua ketika dilahirkan, begitu pula dengan tanah air. Oleh karena itu, cinta tanah air merupakan suatu kewajiban dan dapat dimulai dengan memiliki kesadaran diri sendiri mulai saat ini. ar

Pengukuhan Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Darma Persada dalam bidang ilmu sastra yang dianugerahkan kepada Prof. Dr. Hj. Alberitne Minderop, M.A. diselenggarakan pada Sabtu, 10 Desember 2016. Acara yang bertempat di Grha Wira Bakti Universitas Darma Persada ini, dihadiri langsung oleh Rektor Unsada, Dr. H. Dadang Solihin, S.E., M.A, yang memimpin jalannya prosesi sebagai Ketua Senat Unsada dengan didampingi oleh para anggota senat.

Acara yang berlangsung dari pukul 9 pagi tersebut, diawali dengan pembacaan surat keputusan dari Kemenristek Dikti yang dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup Prof. Albertine. Selanjutnya, beliau diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato ilmiah yang bertajuk “Dekadensi Moral dan Manifesto Transedental: Pencerahan Menggugah Kesadaran Pekerti.” Dalam pidato tersebut, beliau menyampaikan bahwa saat ini terjadi dekadensi atau kerusakan moral pada masyarakat yang mana tidak mampu membedakan antara yang benar dan salah. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan manifesto transedental dimana individu melakukan instropeksi atas apa yang telah dilakukan untuk dapat mencapai perubahan menjadi pribadi yang lebih baik. Karya sastra menjadi salah satu media bagi individu untuk menyuarakan keadaan yang ada pada masyarakat. Karya sastra sendiri tidak dapat dipisahkan dari bahasa, dengan pengunaan bahasa yang baik dan menarik, penulis mampu menuangkan perasaan dan pemikiran yang diyakini. Melalui karya sastra, pembaca diharapkan mampu mendapat gambaran mengenai konsep baik dan buruk yang dapat membantu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. ar

Penandatanganan MOU antara Universitas Darma Persada dengan MNC Securities yang dilaksanakan pada Kamis, 24 November 2016 di gedung Fakultas Ekonomi ruang E208 dihadiri oleh Rektor Unsada, Dr. H. Dadang Solihin, S.E., M.A, dengan didampingi Dekan Fakultas Ekonomi, Sukardi, M.M., dan Direktur Utama MNC Securities, Ibu Susy Meilina beserta jajarannya.

Dalam acara tersebut, Ibu Susy menyampaikan bahwa pasar modal Indonesia yang saat ini didominasi oleh pihak asing seharusnya dimiliki oleh orang Indonesia. Oleh karena itu, dengan diselenggarakannya acara ini diharapkan dapat membuka wawasan dan menarik minat generasi muda untuk berinvestasi di pasar modal. Hal ini diamini oleh Bapak Dadang dan beliau juga menambahkan bahwa Universitas Darma Persada sesuai dengan sesantinya, “Nalar Arif Baktiku Bangsa,” akan mendukung penuh kreativitas positif mahasiswa-mahasiswi Unsada.

Acara yang kemudian dilanjutkan dengan Seminar Pasar Modal ini disaksikan oleh mahasiswa-mahasiswi Unsada yang turut berpartisipasi. Seminar yang bertajuk “Pentingnya Investasi Modal untuk Hidup yang Berkelas,” ini mengundang dua pembicara yaitu Bapak Reha Mauren Edralinturs selaku Marketing & Sales Development Coordinator MNC Securities dan Bapak Sulaiman yang merupakan alumni Unsada. Seminar ini membahas mengenai pentingnya investasi di pasar modal sejak dini untuk mempersiapkan perencanaan kebutuhan di masa yang akan datang. Investasi ini juga relatif lebih aman karena sudah berpayung hukum sesuai dengan UU no.8 tahun 1995. ar