Program Studi

Lembaga

Penelitian

Pengabdian

 

UNSADA

Terakreditasi, Penguasaan Tiga Bahasa (Indonesia, Inggris dan Jepang), Berbasis ICT, Beasiswa, Magang kerja, Bis Kampus.

Brosur

DSC_4481Jakarta, 27 Oktober 2017 – Melanjutkan Seminar Metode Pengajaran, Penerjemahan dan Percakapan Bahasa Jepang, pada hari kedua Prof. Sakoda Kumiko memperkenalkan Oral Proficiency Interview (OPI) kepada peserta seminar. OPI adalah percakapan telepon langsung 15-30 menit antara penguji ACTFL (American Council for Teaching Foreign Language) bersertifikat dan kandidatnya. OPI merupakan tes yang valid dan dapat diandalkan yang mengukur seberapa baik seseorang berbicara menggunakan bahasa asing. Prosedur ini distandarisasi untuk menilai kemampuan berbicara secara global, mengukur produksi bahasa secara holistik dengan menentukan pola kekuatan dan kelemahan. Melalui serangkaian pertanyaan yang dipersonalisasi, sebuah contoh ucapan disampaikan dan dinilai berdasarkan tingkat kemampuan yang dijelaskan dalam Pedoman Kemahasiswaan ACTFL 2012 – Speaking, Interagency Language Roundtable Language Skill Level Descriptors – Speaking, atau the Common European Framework of Reference for Languages (CEFR), tergantung jenis sertifikasi kemahiran bahasa yang dibutuhkan.

Selain OPI, Sakoda juga menjabarkan Strip Story yaitu metode yang membagi siswanya ke dalam kelompok-kelompok beranggotakan 8 orang. Setiap orang dalam kelompok harus menggunakan bahasa Jepang atau dengan kata lain dilarang menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian setiap anggota kelompok mengambil satu strip yang berisi satu kalimat dalam bahasa Jepang. Kalimat tersebut harus dihafal dan strip yang berisi kalimat tersebut dikembalikan kembali kepada pengajar. Tugas kelompok tersebut adalah menyusun kalimat-kalimat yang dimiliki oleh masing-masing anggota kelompok sehingga menjadi satu cerita yang runtut. Dengan cara ini, para anggota kelompok dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa Jepang hingga dapat berhasil menyelesaikan tugas kelompok tersebut.

Metode lain yang disampaikan oleh Sakoda adalah shadowing yang menuntut para peserta ajar untuk secara sederhana menirukan apa yang diucapkan dalam bahasa yang sama sesuai dengan cara pengucapannya. Shadowing dinilai efektif untuk mengajar bahasa asing karena menyajikan bahasa yang diajarkan yang dalam hal ini bahasa Jepang yang baik dan benar. Selain itu, shadowing juga membantu memahami makna dari percakapan sesuai dengan konteksnya. Kunci keberhasilan pembelajara dari metode ini adalah kecepatan memproses kata yang dilakukan oleh peserta ajar. Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa shadowing meningkatkan kemampuan mendengar dan meniru sehingga shadowing dinilai lebih efektif dibandingkan membaca nyaring maupun menyalin kalimat. Selain itu, metode ini  juga dapat digunakan baik untuk teks yang sulit maupun yang mudah. Dengan shadowing, para siswa dapat memproses kata dengan cepat dan memiliki waktu lebih untuk memperhatikan maknanya. Cara yang digunakan untuk melakukan shadowing adalah dengan memeriksa kata-kata baru maknanya kemudian mendengarkan tanpa membaca skrip.

Menurut Sakoda, yang terpenting dalam pengajaran bahasa asing adalah terus berlatih sehingga dapat menyempurnakan kemampuan berbahasa. Selain itu, merupakan tugas pengajar untuk dapat menemukan metode yang tepat sehingga para peserta ajar merasa nyaman dan semangat untuk mempelajari bahasa. ar

artikel terkait:Hari Pertama Seminar Metode Pengajaran, Penerjemahan dan Percakapan Bahasa Jepang

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>