Program Studi

Lembaga

Penelitian

Pengabdian

 

UNSADA

Terakreditasi, Penguasaan Tiga Bahasa (Indonesia, Inggris dan Jepang), Berbasis ICT, Beasiswa, Magang kerja, Bis Kampus.

Brosur

Jakarta, 23 Oktober 2017 – Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada menyelenggarakan Kuliah Umum Budaya Tiongkok pada Senin, 23 Oktober 2017 dengan mengundang Ardian Cangianto. Acara yang diselenggarakan di ruang seminar Fakultas Teknologi Kelautan tersebut bertajuk “Mengenal Mediumship dalam Budaya Tionghoa.” Seminar yang berlangsung sejak pukul 10:00 tersebut tidak hanya dihadiri oleh para mahasiswa mahasiwi UNSADA namun juga para dosen dan jajaran Fakultas Sastra.

Mengawali kuliah umum tersebut, Ardian memberikan pemaparan mengenai sejarah seni medium Tiongkok yang bermula dari dinasti Shang dan dinasti Zhou kepada partisipan. Pada masa itu, terdapat kepercayaan bahwa medium dipergunakan sebagai alat untuk menjadi perantara kepada dewa dan tidak dipergunakan untuk kepentingan pribadi melainkan hanya untuk kepentingan orang banyak. Selain itu, paza masa tersebut difabel dikorbankan karena dalam masyarakat akan menjadi beban. Hal ini tentu berbeda dengan pandangan masyarakat masa kini.

Dalam seni medium diperlukan sarana seperti gayung berupa batok yang digunakan dari kamar mandi yang mirip dengan sarana yang digunakan pada ritual jaelangkung di Indonesia. Dalam kebudayaan Tiongkok, terdapat alat yang dikenal sebagai Fu Luan yang mirip seperti paruh burung yang digunakan untuk menuliskan pesan yang dipercayai sebagai rahasia dari langit. Fu Luan sendiri dipercayai sebagai burung Phoenix peliharaan Xi Wangmu, Ibu Ratu dari Barat.

Menurut Ardian, terdapat dua jenis mediumship yakni Fushen dan Futi. Fushen merupakan jenis mediumship yang mengambil alih seluruh badan sehingga tubuh medium seperti boneka gantung sedangkan futi merupakan jenis mediumship yang hanya menggunakan salah satu anggota tubuh saja. Medium sendiri bisa diperoleh karena bawaan dari lahir maupun garis keturunan. Jika medium berasal dari selain dua proses tersebut, maka disebut “pemetikan” yang bisa dipastikan negatif karena medium yang “dipetik” biasanya adalah korban film silat/horor, memiliki energy negatif yang kuat, kesadaran yang lemah, dan tanggal lahir negatif yang kuat.

Medium sendiri bisa digolongkan menjadi 2 jenis yakni Medium Sipil dan Medium Militer. Medium Sipil memiliki ciri khas mata yang terpejam dan memiliki nilai yang positif. Alat yang digunakan dalam Medium Sipil sendiri juga mirip dengan sastrawan berupa papan dan stempel. Berbeda dengan Medium Sipil, Medium Militer menggunakan senjata seperti pedang, bola duri, kapak, dan pentungan paku yang melambangkan senjata dari kerajaan Barat, Timur, Utara dan Selatan. Medium Militer sendiri memiliki ciri khas mata yang terbuka tanpa berkedip dan memiliki nilai yang negatif.

Meski berbeda, kedua medium baik sipil dan militer menggunakan pakaian seperti otto dan rok naga. Otto sendiri merupakan pakaian yang menutup dada dan biasanya dipakai oleh anak laki-laki Tiongkok tempo dulu. Oleh karena itu, medium biasanya dipilih dari anak laki-laki yang masih perjaka. Dalam mediumship, masyarakat Tionghoa memiliki konsep bahwa kekuatan siluman dapat ditaklukan dengan kebijaksanaan sehingga tidak perlu dimusnahkan. Oleh karena itu, mereka menggunakan cambuk ular yang konon katanya merupakan lambang siluman ular yang pernah ditaklukan dan berjanji akan membantu dan melindungi ritual pengusiran roh. Selain itu, kedua medium haruslah melakukan pembersihan diri terlebih dahulu sebelum dilakukan ritual mediumship. Oleh karena itu, para medium biasanya menghindari makan 6 jam sebelum ritual sehingga mereka tidak perlu muntah untuk mengeluarkan isi perut mereka. Medium Militer memiliki tugas untuk membersihkan daerah sekitar dari semua unsur jahat dan menebus dosa manusia dengan cara mengeluarkan darah pada saat arak-arakan sedangkan Medium Sipil bertugas memberikan berkah sesuai berkatnya sebagai pendoa.

Dalam Taoisme, medium yang tidak melalui pentasbihan bisa dirasuki oleh kekuatan jahat sehingga para medium harus melalui proses bertapa selama 49 hari dan belajar talisman. Selain kedua jenis medium di atas, terdapat jenis lain yang disebut Shenda yang mana mirip dengan mediumship namun berbeda. Shenda merupakan teknik pelatihan diri dnegan kekuatan dewa dimana pelaku tidak boleh berdarah atau harus kebal. Shenda sendiri sering dipakai oleh para petarung.

Dari seminar ini dapat disimpulkan bahwa medium pada zaman dahulu menjadi para pendoa. Komersialisasi medium yang terjadi pasa masa kini merusak nilai-nilai spiritualitas. Medium sendiri tidak selalu akibat dari karma buruk seseorang. Selain itu, Medium diterima dalam Taoisme namun sulit untuk mengontol kegiatan mediumship yang sesuai dengan nilai asalnya. ar

DSC_4218 - Copy DSC_4187 - Copy DSC_4232 - Copy

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>